Ironi Bayi Debora, Daftar Bayi Meninggal karena Uang Jaminan

1
613
Bayi Debora. (foto Ist)

JAKARTA – Meninggalnya bayi Debora di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kalideres, ternyata bukan kejadian pertama kali. Tercatat, sudah ada 9 bayi lainnya yang mengalami hal sama, bahkan lebih parah.

Pilu Tiara Debora

Uang tak cukup untuk jaminan PICU

Tiara Debora, 4 bulan, mengalami flu dan batuk selama sepekan, sempat dibawa ke RSUD Cengkareng, dokter rumah sakit hanya memberikan obat dan nebulizer untuk mengobati pilek Debora.

Tapi, bukannya sembuh, kondisi Debora justru semakin parah pada Sabtu 2 September, malam. Dia mengeluarkan keringat dan alami sesak nafas.

Kedua orangtua Debora pun membawanya ke RS Mitra Keluarga pada Minggu 3 September pagi yang lokasinya dekat rumah, dengan menggunakan motor.

Tiba di rumah sakit, dokter jaga saat itu langsung melakukan pertolongan pertama dengan melakukan penyedotan (suction).

Memperhatikan kondisi Debora yang menurun, dokter menyarankan dirawat di ruang pediatric intensive care unit (PICU).

Orangtua Debora.

Dokter pun menyarankan orang tua Tiara untuk mengurus administrasi agar putrinya segera mendapatkan perawatan intensif.

Karena rumah sakit tersebut tak melayani pasien BPJS, maka Rudianto dan Henny harus membayar uang muka untuk pelayanan itu sebesar Rp19.800.000.

Tapi, Rudianto dan Henny hanya memiliki uang sebesar Rp5 juta dan menyerahkannya ke bagian administrasi.

Uang tersebut ditolak meski Rudianto dan Henny telah berjanji akan melunasinya segera. Pihak rumah sakit sempat merujuk Debora untuk dirawat di rumah sakit lain yang memiliki instalasi PICU dan menerima layanan BPJS.

Setelah menelpon ke sejumlah rumah sakit, Rudianto dan Henny tak juga mendapatkan ruang PICU kosong untuk merawat putrinya. Kondisi Tiara terus menurun hingga akhirnya dokter menyatakan bayi mungil tersebut meninggal dunia.

Bayi Ny Sri Supartini

Kehilangan bayi kembarnya karena uang jaminan

Sri Supartini dan Asbih, seorang karyawan PT Arnott’s Indonesia merupakan peserta BPJS terpaksa harus kehilangan anak kembar mereka, karena diharuskan membayar uang Rp16 juta untuk uang jaminan dilakukannya operasi sesar dan box incubator bayi.

Padahal, Asbih siap membayar uang Rp5 juta terlebih dahulu sebagai uang muka, lalu pada sore harinya baru dia akan mencari uang untuk melunasinya, tapi pihak rumah sakit justru memintanya untuk menghubungi HRD PT Arnott’s Indonesia pada hari libur tersebut.

Tidak ada respon dari rumah sakit, dia pun segera membawa istrinya yang hanya dibaringkan di IGD saja. Itupun dia harus membayar uang Rp124 ribu.

Selanjutnya, Asbih membawa istrinya ke RSUD Kota Bekasi. Pukul 16.00 WIB, anak pertama melahirkan, 20 menit kemudian anak keduanya menyusul dan lahir dengan normal. Akan tetapi, pihak RS memintanya mencari box incubator bayi, karena pihak RSUD kehabisan.

Asbih pun langsung mencari ke beberapa RS di kawasan Bekasi, tapi hingga pukul 21.00 WIB, box incubator tak didapatkan. Dalam perjalanannya, Asbih mendapatkan kabar bahwa anak pertamanya meninggal. Dia pun kembali ke RS dengan kondisi syok, saat disana dia diminta mencari ke RS di Bantar Gebang. Tapi, karena terlalu lama, pukul 03.00 WIB, anak keduanya meninggal dunia.

Dera Nur Anggraini

Ditolak 10 Rumah Sakit

Dera dan Dara Nur Anggraini adalah bayi kembar dari pasangan Eliyas Setya Nugroho-Lisa Darawati. Dia dilahirkan di Rumah Sakit Zahira, Pasar Minggu pada 10 Februari 2013. Tapi, sayang kondisi Dera mengalami masalah pada saluran pencernaannya. Saudara kembarnya, Dara dirawat di RS Tarakan.

Sedangkan Dera harus segera menjalani operasi dengan masalah pencernaan tersebut. Sementara di RS Zahira memiliki keterbatasan peralatan. Akhirnya, sang ayah Eliyas Setia Nugroho mendapat surat rujukan untuk mencari rumah sakit. Tapi, sebanyak 10 rumah sakit menolaknya dengan berbagai alasan.

Dari RS Fatmawati, RSCM, RS Harapan Kita, kemudian ke RS Harapan Bunda, yang memintanya uang muka Rp10 juta. Tapi, karena tidak punya uang di hri berikutnya dia pun kembali ke rumah sakit lainnya, ke RS Triadipa, RS Sari Asih, RS Budi Asih, ketiganya menolak karena penuh dan meminta uang jaminan.

Selanjutnya, dia ke RS Jakarta Medical Center, dan RS Pertamina yang juga menolak. Akhirnya, pada Sabtu 16 Februari pukul 18.30 WIB, Dera meninggal dunia di RS Zahira.

Bayi Ny Reni Wahyuni

Ditolak 7 Rumah Sakit

Hari Kurtanti (41) tidak akan melupakan peristiwa tragis yang dialaminya, Juni 2017. Saat itu, dia bersama istrinya, Reny Wahyuni (40) yang tengah hamil 8 bulan memeriksakan kehamilannya ke RS Taman Harapan Baru, Bekasi.

Saat diperiksa, kondisi Reny tidak stabil. Tekanan darahnya mendadak tinggi hingga tembus 270/160, trombosit pun rendah di bawah 5.000. Tapi, saat hendak dirawat kartu BPJS milik Reny ditolak dengan alasan ruang ICU tengah penuh.

Hari pun langsung berjibaku berupaya menyelamatkan nyawa istri dan anak keempatnya, dengan mencari rumah sakit di wilayah Bekasi yang bersedia menerima. Sebanyak enam rumah sakit swasta lain, RS Ananda Bekasi, RS Anna Medika Bekasi, RS Mekar Sari, RS Bakti Kartini, RS Bella, dan RS Hermina, menolak.

Kemudian, saudaranya menginformasikan untuk membawanya ke RS Koja, Jakarta Utara. Saat dibawa, rumah sakit tersebut langsung menangani dan bersedia melakukan operasi sesar. Namun, bayi mereka tidak dapat diselamatkan.

Masih banyak kisah lainnya yang  tidak mendapatkan pelayanan rumah sakit:

Zikri Hilawan Hasibuan (14 bulan) di RS Tiara Bekasi.

Faza Alifa Oktavia (6 bulan) di RS Medika Lestari, Tangerang

Azzahra Wulandari (13 bulan) di Bekasi

Mesiya Rahayu (15) di Kota Tangerang

Zara Naveen (3,5 bulan di Depok

Naila (2 bulan) di Makassar

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here