Punya Utang Ratusan Juta, Kini Harta Brian Triliunan Rupiah

0
445
Brian Chesky

MEMBANGUN usaha tidak ada yang mulus jalannya. Pasti ada proses jatuh bangun, bahkan hingga terbelit utang ratusan juta, seperti yang dialami pendiri Starup Airbnb Brian Chesky.

Tapi terbelit utang hingga ratusan juta dalam membangun bisnisnya, kini berbuah manis. Brian Chesky kini menikmati hasil perjuangannya dari bawah hingga akhirnya memiliki harta berlimpah.

Brian Chesky

Airbnb, sebuah website yang bergerak di bidang sewa penginapan online, kini paling diperhitungkan. Memiliki jaringan di 65 ribu kota dan 191 negara dengan 3 juta tempat penginapan membuat valuasi Airbnb diperkirakan mencapai USD30 miliar.

Hasil manis yang didapatkan Brian hari ini tentu membutuhkan kerja keras dan perjuangan. Tak hanya Brian, dia bersama dua temannya Joe Gebbia dan Nathan Blecharczyk menempuh jalan terjal membangun Airbnb. Lalu, bagaimana kisahnya?

Disitat dari CNBC, tahun 2007 Brian dan Joe tinggal di sebuah apartemen di San Francisco. Saat itu, ada sebuah acara konferensi besar yang membuat semua hotel penuh, sehingga mereka berinisiatif menyewakan tempat tidur mereka yang ternyata diminati.

Peristiwa itulah yang menjadi landasan pemikiran mereka menggagas sebuah situs bernama Airbedandbreakfast.com. Tapi awal membangun website tersebut, kurang diminati. Bahkan, setahun setelahnya, perhari hanya ada 10 booking saja.

Padahal, Brian sudah mengocek dalam untuk membangun website tersebut hingga USD25 ribu atau Rp334 juta. Utang di kartu kreditnya pun terus membengkak, dia pun harus memutar otak untuk membuat strategi yang tepat untuk menambah penghasilan.

Saat itu, tengah berlangsung Pilpres Amerika Serikat, dimana Barack Obama dan John McCain tengah bertarung. Dia pun memiliki ide untuk membuat sarapan sereal dengan kemasan bertemakan pemilu, yang akhirnya diminati. Momentum itu, sekaligus mempromosikan website mereka yang memang memiliki kata akhir breakfast.

“Kami bikin ribuan boks sereal yang bisa dikoleksi. Aku harus mengelem sekitar seribu kemasan sereal,” kenang Brian.

Sukses dengan strategi tersebut, Airbnb dilirik investor Silicon Valley dari Y Combinator, Paul Graham. Dia datang dan mengusulkan agar Brian serius mengembangkan Airbnb dan mencaritahu apa yang diinginkan orang yang berniat menyewakan tempat tinggalnya melalui website tersebut.

Kemudian, Brian dan kawan-kawannya itu pun segera melakukan survei dalam rangka mengetahui keinginan klien, kadang juga dilakukan dengan cara menyamar. Singkatnya, nama Airbnb makin dikenal dan diluncurkan secara global pada tahun 2010.

Tahun 2011, startup tersebut mendapatkan pendanaan USD 1 miliar. Tetapi, mereka belum punya kantor tetap dan kadang para tuan rumah mengeluh karena beberapa tamu bertingkah dan melakukan pengerusakan di properti mereka.

Brian pun berusaha mewadahi keluhan tersebut, dengan cara membuat layanan konsumen 24 jam. Dia mulai mengelola perusahaannya dengan cara professional.

“Saat itu tidak ada manajemen, tidak ada rapat dan tidak ada komunikasi. Aku tidak tahu bagaimana menjalankan perusahaan,” kisah Brian.

Semakin lama, Startup itu makin besar dan manajemennya kian bagus. Mereka mendapatkan lagi pendanaan USD4,4 miliar dari investor terkemukan seperti Sequoia Capital, Greylock Partners, Andreessen Horowitz dan Founders Fund.

Dengan pendanaan tersebut, harga mereka lebih murah, Airbnb pun semakin mengancam bisnis hotel. Walau begitu, Brian tidak memiliki rencana untuk melantai di bursa saham.

” Kami masih punya beberapa miliar dolar di bank,” pungkas Brian.

Kini, kekayaan Brian semakin meningkat, dari terjebak utang kini Forbes menghitung harta Brian mencapai USD3,3 miliar atau Rp44 triliun. Buah manis dari kerja kerasnya.

Bagaimana menurut Anda, perjuangan Brian ini menginspirasi bukan?

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here