Ini Hukum Islamnya Tentang Racun Kalajengking

0
116

ORANYENEWS- Pidato Presiden Joko Widodo yang menyinggung racun kalajengking, sebagai salah satu komoditas termahal dunia, menimbulkan rasa penasaran baru. Apa hukum Islamnya tentang racun Kalajengking?

Wasekjen Ittihaadul Mubalighin Ustadz Soleh Sofyan menjelaskan ada perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukum kalajengking. Sebagian menghalalkan dan sebagian lagi mengharamkan.

Yang menghalalkan di antaranya adalah Imam Maliki. Di dalam Fiqh Sunnah karangan Sayyid Sabiq jilid 3 halaman 413 disebutkan bahwa Imam Malik beliau berpendapat bahwa tidak apa-apa memakan serangga tanah, kalajengking, dan cacing. Juga tidak apa-apa memakan anak tawon, belatung keju, belatung kurma, dan sejenisnya.

Penulis Fiqih Wadhih meriwayatkan dari Malik, Ibnu Abi Laila, dan Auzai diperbolehkannya makan ular, kalajengking, tikus, landak, dan kodok jika disembelih. Dalil mereka adalah perkataan Ibnu Abbas dan Abu Darda, “Apa yang dihalalkan Allah adalah halal dan apa yang diharamkan adalah haram, dan apa yang Allah diam atasnya maka ia termasuk dalam hukum afwu (dimaafkan).” (Fiqih Wadhih, Bab II, hlm. 396 seperti dikutip Syekh Fauzi Muhammad dalam Hidangan Islami, hlm. 106).

Imam Mazhab yang menghalalkan kalajengking setidaknya karena dua alasan:

1. Kalajengking binatang melata seperti belakang, jadi halal di makan.

2. Kalajengking termasuk binatang yang “Maa laa daama lahu sailun”( tidak mengalir darahnya) maka dianggap suci alias tidak bernajis maka boleh di ambil minyaknya. Tapi kalau untuk dimakan terjadi perbedaan pendapat.

Sementara yang mengharamkan adalah Imam Syafii, dengan berdasarkan:

1. Hadits Muhammad SAW.
Rasulullah Saw bersabda, “Lima dari binatang semuanya fasik, boleh dibunuh di tanah haram, yakni burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing liar.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Nasa’i).

Dari hadits ini Imam Syafi’i memberi pendapat bahwa binatang yang dilarang dibunuh, diharamkan untuk dikonsumsi. Sebab, andaikata dihalalkan, tidak dilarang untuk dibunuh. Sebaliknya, sesuatu yang diperintahkan untuk dibunuh, berarti haram dikonsumsi. Sebab, andaikata dihalalkan, tentulah tidak diperintahkan untuk dibunuh.” (Abdul Wahab Andussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm. 29).

2. Kalajengking termasuk binatang yang khabits (buruk), membahayakan dan fasik yang syariat membolehkan untuk membunuhnya jadi haram di konsumsi.

 

Demikian pendapat ulama mengenai hukum Islamnya Kalajengking, wallahu a’lam bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here