Bolehkah Menunda Mandi Besar Setelah Haid karena Berada di Kantor?

0
143

ORANYENEWS- Bersuci dengan mandi besar harus dilakukan setelah selesainya haid. Lalu, bagaimana hukum Islamnya jika saat suci datang, posisi sedang berada di kantor dan tidak mandi besar sehingga waktu salat terlewati?

Pernyataan tersebut muncul dari jamaah di dalam sebuah taklim, begini jawabannya:

Baca juga: Peneliti Jepang Ungkap Khasiat Zamzam untuk Obati Berbagai Penyakit

Seluruh ulama sepakat, bila ada kewajiban shalat yang harus dikerjakan dan waktunya hampir habis, maka wajib segera mandi janabah. Kewajiban ini bersifat mutlak dalam keadaan apapun, termasuk bila masih ada di kantor atau di jalan.

Ilustrasi (foto: shutterstock)

Sebab yang namanya shalat lima waktu itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja dengan sengaja tanpa udzur syar’i. Dan sengaja meninggalkan shalat hukumnya dosa besar, walaupun niatnya akan diganti (diqadha’).

Sebagaimana kita tidak boleh meninggalkan shalat fardhu hingga lewat dari waktunya, dengan beralasan tidak mau  wudhu’ kecuali di rumah, begitu pula seseorang tidak boleh meninggalkan shalat hingga lewat waktunya dengan alasan tidak mau mandi janabah kecuali di rumah.

Perlu dipahami bahwa mandi janabah itu tidak harus di rumah sendiri. Mandi janabah sebenarnya bisa dilakukan dimana saja, sebagaimana wudhu bisa dilakukan dimana saja. Yang penting paradigma kita harus diubah 180 derajat.

Hemat Air

Salah satu alasan kenapa para wanita emoh mandi janabah, adalah karena sudah terpatri di dalam alam bawah sadarnya, bahwa mandi janabah itu butuh air yang amat banyak. Kalau belum keramas atau mandi jebar-jebur pakai gayung, rasanya masih belum sah.

Padahal semua itu cuma mithos yang tidak ada dasarnya, kecuali cuma perasaan yang sama sekali tidak didasarkan pada ilmu.

Yang dibutuhkan hanya kamar mandi dimana seorang wanita bisa meratakan air ke seluruh tubuhnya. Tidak harus keramas atau mandi jebar-jebur membuang-buang banyak air. Yang penting rata dan tidak ada bagian tubuh yang terlewat dari basah kena air.

Rasulullah SAW sendiri kalau mandi janabah sangat hemat dalam menggunakan air. Air yang dibutuhkan cuma satu sha’. Menurut para ulama kontemporer, ukuran air satu sha’ kalau dikonversi ke zaman sekarang cuma 2,75 liter saja.

Kreatif dan Harus Berupaya

Kadang alasan lain yang suka dipakai adalah tidak adanya kamar mandi yang layak untuk mandi. Maka para wanita cenderung ogah mandi janabah, walaupun darah haidhnya sudah selesai. Mereka merasa lebih nyaman untuk meninggalkan shalat fardhu beberapa kali, dari pada cari tempat untuk bisa mandi janabah.

Padahal seharusnya kalau tidak ada kamar mandi yang khusus buat mandi, bisa saja digunakan WC yang berlantai basah. Cukup tuangkan air ke sekujur tubuh dan ratakan, maka selesai sudah mandi janabah itu.

Memang kadang di gedung-gedung bertingkat yang mewah, agak sulit kita temukan WC yang berlantai basah. Umumnya konsep WC-nya berlantai kering, sehingga di dalam toilet nyaris kita tidak bisa mandi membasahi tubuh. Bahkan sekedar sprayer untuk istinja’ pun tidak ada.

Jadi kalau kebetulan kantornya di gedung mewah, pergilah ke luar sambil makan siang. Lalu carilah kamar mandi atau WC di luar kantor, misalnya di rumah makan  atau pom bensin.

Dalam hal ini para wanita dituntut untuk kreatif dan berupaya terlebih dahulu dalam mengusahakan dirinya bisa mandi janabah.

Tidak Bawa Perlengkapan Mandi

Dan alasan yang diada-adakan lainnya untuk tidak mau mandi janabah adalah tidak bawa peralatan mandi, seperti lulur, sabun, handuk, shampoo, atau hiar drayer. Seolah-olah mandi janabah itu tidak sah kalau tidak ada semua perabotan itu.

Padahal yang dibutuhkan sebenarnya cuma selembar sapu tangan atau tissue, untuk sekedar bisa mengeringkan badan dari tetes air. Tidak harus ganti baju setelah mandi, juga tidak harus luluran, pakai bedak, gincu atau kosmetik lainnya.

Solusi Terakhir : Tayammum

Dalam kasus dimana kamar mandi sama sekali tidak ada, dan mandi sama sekali tidak bisa dikerjakan, tetap saja shalat tidak boleh ditinggalkan. Untuk itu para ulama membolehkan shalat dalam keadaan berjanabah dengan cara bertayammum.

Sebagian ulama berpendapat tayammum bisa menggantikan mandi janabah secara mutlak, ketika tidak ada air. Sehingga ketika sudah ada air, tidak perlu mandi lagi.

Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tayammum itu hanya berfungsi sebagai pengganti sementara, asalkan bisa mengerjakan shalat, selama tidak ada air. Begitu air didapat, maka harus mandi janabah lagi.

Terlanjur Keliru

Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur keliru. Ternyata selama ini banyak shalat yang ditinggalkan, padahal darah haidh sudah berhenti?

Jawabannya adalah apa yang sudah terlanjur biarkan saja. Tetapi ke depan harus hati-hati jangan sampai terulang lagi. Setiap wanita harus bisa mengantisipasi keadaannya, harus selalu siapa kapan mendapat darah haidh dan kapan berakhirnya. Agar jangan sampai dia tanpa sadar meninggalkan shalat fardhu.

Wallahu a’lam bishshawab.

Pengasuh:
Ustadz Soleh Sofyan
Wasekjen Ittihadul Mubalighin
Alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here