30 Tahun Gamelan Menggema di Inggris, Ini Fakta-Faktanya

0
235

ORANYENEWS- Berseragam batik khas Solo, para penabuh gamelan itu tampak asyik memainkan alat yang ada di hadapannya. Suara-suara lembut keluar menghipnotis setiap pengunjung yang memadati ruang terbuka di Queen Elizabeth Hall, Southbank Centre, London. Bahkan, semakin sore, pengunjung semakin berjejal, bahkan rela untuk duduk di seputar panggung atau berdiri berdesakan dengan penonton lainnya.

Mereka terbius oleh bunyi-bunyi magis yang sesekali ditimpali nada-nada menggebrak. Tepuk tangan riuh menyudahi setiap usai sebuah karya dipentaskan. Itulah sekilas gambaran yang terjadi pada pagelaran musik gamelan yang dimainkan oleh para pemusik gamelan yang tergabung dalam Southbank Gamelan Players (SBGP) pada tanggal 27 April 2018 di Queen Elizabeth Hall, Southbank Centre, London, Inggris. Pertunjukan tersebut digelar sebagai bagian dari seri Friday Tonic dan Concrete Dreams Weekend.

Friday Tonic adalah seri pementasan musik yang dilakukan jumat sore. Tujuannya adalah agar bisa dinikmati oleh para commuters disaat mereka akan pulang kerja dan mampir ke Southbank Centre untuk sekedar minum kopi atau ngobrol-ngobrol kecil. Sementara itu, Concrete Dreams Weekend yang berlangsung dari 27-29 April ini dilaksanakan untuk merayakan sejarah pendirian gedung Queen Elizabeth Hall pada tahun 1960-an.

Tiga puluh tahun yang lalu, Pemerintah Republik Indonesia memberikan sebuah perangkat gamelan lengkap kepada warga Inggris sebagai tanda persahabatan. Perangkat gamelan tersebut ditempatkan di Southbank Centre sampai sekarang. Pertunjukan tanggal 27 April ini dilakukan dalam rangka memperingati 30 tahun sejak gamelan ini ditempatkan di Southbank Centre, dan merayakan pembukaan kembali Gedung Queen Elizabeth Hall yang selama dua tahun terakhir ditutup untuk renovasi besar.

 

Pertunjukan yang dimulai pada sore hari pukul 17.30 sampai 19.00 itu menampilkan gamelan Jawa oleh kelompok Southbank Gamelan Players, yang memang sudah biasa berlatih di Southbank Centre. Sementara itu, tarian-tarian yang melengkapi pertunjukan malam itu dihadirkan oleh kelompok tari Lila Bhawa Indonesian Dance UK.

Dalam sambutan pendeknya, Sophie Ransby yang menjabat sebagai Direktur Gamelan di Southbank Centre menyatakan terima kasih atas jalinan persahabatan yang telah terikat antara Indonesia dan Inggris Raya selama ini. Keberadaan gamelan yang menjadi salah satu jenis musik yang digandrungi masyarakat Inggris menjadi pengokoh ikatan persabatan itu, khususnya dalam diplomasi people-to-people. Kekuatan ikatan pada tingkat ini diyakini akan menjamin persahabatan yang lebih panjang. Usai sambutan tersebut, para pemain menampilkan lagu pertama Diradameta yang dimainkan dengan gamelan lengkap. Menyusul berikutnya adalah Gangsaran – Roning Tawang yang menjadi bagian dari repertoar baku gamelan Solo, Jawa Tengah.

Sajian semakin menarik ketika para pemain menyuguhkan lagu ketiga, yakni Full Fathom Five. Lagu ini merupakan komposisi kontemporer yang diciptakan oleh komponis dan musisi gamelan Alec Roth, salah seorang pendiri kelompok Southbank Gamelan Players. Alec Roth menjadi perintis penyebaran musik gamelan di Inggris dan dia ikut menabuh gamelan sejak awal gamelan di Southbank. Pementasan ini kemudian diikuti oleh pentas tari topeng tradisi desa Klaten, yaitu Tari Klana, yang ditarikan oleh Sujarwo Joko Prehatin, seorang dalang asal Tengah Jawa yang sudah menetap di Inggris.

Seolah tak puas dengan sambutan meriah dari para penonton yang semakin terkesima dengan alunan-alunan musik gamelan khas Indonesia ini, para pemain kemudian menyuguhkan Gendhing Talu, yaitu bagian dari repertoar tradisi gamelan Jawa yang biasanya dipentaskan sebagai musik awal atau pembuka pada pertunjukan wayang kulit. Sebagai informasi tambahan, kelompok Southbank Gamelan Players berencana akan membawa karya ini pada pertunjukan wayang kulit di Jerman, Cardiff dan Wales tahun 2018 ini.

Karya-karya lain yang ditampilkan pada sesi berikutnya adalah komposisi-komposisi gamelan kontemporer. Ada Cornish Lancaran yang memakai gamelan digabung dengan saxofon yang dimainkan oleh Sophie Ransby. Kemudian, ditampilkan juga Ice Cream Van From Mars, sebuah komposisi ciptaan Malcolm. Lalu, digelar pula Pig in the Kraton, komposisi yang dimainkan oleh gamelan lengkap bernuansa gamelan Bali. Pig in the Kraton ini diciptakan oleh Andy Channing, dimainkan di mana semua pemain memakai kacamata hitam. Salah satu pemain memakai topeng babi, lalu menggoda para penonton. Tingkah ini merupakan bagian dari pertunjukan.

Tidak terlewatkan, para pemain juga menampilkan gending tradisional Gambyong Pareanom, kemudian tarian klasik Solo yang dipentaskan oleh dua penari dari Lila Bhawa Indonesian Dance UK. Menutup pertunjukan kali ini adalah komposisi karya Rahayu Supanggah yang berjudul Bibaran yang diciptakan sebagai penutup sebuah pementasan. Sebuah catatan yang penting dari pementasan di Southbank itu adalah tampak jelasnya kepiawaian para pemain dalam memainkan komposisi tradisi dan kontemporer. Hal inilah yang kemudian bisa membuat gamelan berterima di telinga masyarakat Inggris, yang memang sudah begitu akrab dengan jenis-jenis musik klasik.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonedia (KBRI) London, E. Aminudin Aziz, hadir bersama istri mewakili KBRI. Dalam kesempatan tersebut, Aminudin menyampaikan terima kasih kepada para pegiat seni gamelan ini, yang telah secara terus menerus merawat budaya Indonesia di tanah Inggris. Aminudin memuji mereka sebagai ‘duta-duta’ Indonesia yang berakar dari tanah lokal. Aminudin mencatat bahwa beberapa pemain yang aktif dalam kelompok gamelan ini merupakan alumni penerima beasiswa Darmasiswa RI puluhan tahun lalu. Keberhasilan mereka merawat seni gamelan di Inggris ini merupakan salah satu wujud keberhasilan program beasiswa Darmasiswa RI itu. John Pawson yang merupakan tokoh sentral dalam SBGP merupakan rombongan perintis penerima beasiswa ini. Dalam pandangan John Pawson, untuk belajar gamelan secara utuh, program beasiswa Darmasiswa RI bisa menjadi salah satu pintu masuk terbaik. Oleh karena itu, seraya diamine oleh beberapa alumni lainnya, John Pawson berharap beasiswa Darmasiswa ini dipertahankan dan ditambah kuotanya.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here