Penerapan B30 Berdampak Pada Ekspor Biodiesel 2020

Penerapan B30 Berdampak Pada Ekspor Biodiesel 2020
Foto : Liputan6

Oranyenews.com, Jakarta – Menurut yang diperkirakan, penerapan biodiesel (B30) sejak akhir tahun 2019 akan berdampak pada penurunan ekspor biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester/Fame) di tahun 2020.

Untuk tahun ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), memberikan target produksi FAME 10 juta kilo liter, dengan target serapan dalam negeri sebanyak 9,6 juta kilo liter.

Kondisi tersebut berarti, sisa dari produksi yang mempunyai kemungkinan diekspor hanya sebesar 400 ribu kilo liter.

“Kalau 9,6 juta kilo liter target pemakaian dalam negeri. Target produksi = pemakaian dalam negeri + ekspor,” ungkap Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Andriah Feby Misnah dikutip CNBC, Senin, (13/01/2020).

Lebih lanjut, Feby juga menjelaskan bahwa meski di 2020 mempunyai proyeksi menurun, akan tetapi di tahun sebelumnya, terjadi peningkatan jumlah ekspor.

Untuk tahun 2017, ekspor FAME sebanyak 187 ribu kilo liter. Di tahun 2018, mengalami peningkatan, yakni menjadi 1,8 juta kilo liter. Dan ditahun 2019, tepatnya hingga November, ekspor mencapai 1,3 juta kilo liter.

“Tahun 2019 karena serapan dalam negeri juga meningkat, ekspornya agak turun. Di tahun 2018 meningkat. Kapasitas produksi kita hanya kisaran 10 juta kilo liter (tahun 2020) kalau serapan di dalam sudah full otomatis ekspornya turun,” jelasnya.

Feby menilai, serapan dalam negeri meningkat pasca penerapan B30, yakni sebesar 3 juta kilo liter. Sehingga peluang ekspor semakin rendah.

Akan tetapi, Feby juga belum bisa memberikan kepastian terkait dengan negara mana saja yang akan mengimpor FAME dari Indonesia.

“Tahun 2020 negaranya mana kita belum tahu. China banyak, ekspor biodiesel kita meningkat kok, hanya bukan ke Eropa,” bebernya.

Dari sisi lain, Kepala Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menyebut bahwa untuk uji teknis tengah dipersiapkan bersama dengan stakeholder.

Beberapa diantaranya ialah PT Pertamina (Persero), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Asosiasi kapal, Asosiasi alat berat, dan lain-lainnya.

“Uji jalan dua minggu dari sekarang,” paparnya di Kementerian ESDM, Kamis, (9/01/2020).

Dadan menilai, uji jalan akan dilakukan hingga April 2020 mendatang pasca uji lab, sehingga hasilnya bisa dilihat pada bulan Juli atau setidaknya Agustus 2020.

Program biodiesel sendiri merupakan langkah yang diambil pemerintah guna mengurangi ketergantungan impor minyak, demi memperbaiki defisit neraca perdagangan, khusus pada sektor energi.

“Target di Juli-Agustus sampai road tes,” tambahnya.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here