Beredar Rekaman Diduga “Papa Minta Saham Jilid 2”, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya

0
314
Menteri BUMN Rini Soemarno saat resmikan Gereja di NTT (foto: BUMN)

ORANYENEWS- Akhir pekan ini masyarakat dibuat heboh dengan beredarnya penggalan rekaman pembicaraan diduga antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir terkait saham. Apakah ini “Papa Minta Saham Jilid 2”?

Penggalan rekaman yang bikin heboh itu pertama kali diunggah akun instagram @walikota_parung, pada Jumat 27 April 2018. Akun tersebut memposting dengan caption ‘Dashyaaatttt…!!!! Mau kelanjutanhya? Om butuh 1000 likes #MafiaMigas #RIwayatpertaminakiNI’,

Berikut penggalan rekaman pembicaraan tersebut:

Pria (P): Kemarin gini. Saya juga kaget kan Bu, saya mau cerita sama Ibu, beliau kan panggil saya, pagi kemarin kan saya baru pulang.

Wanita (W): Ya, ya, kemarin ngomong sama bapak kemarin, yang penting gini lah, udah lah yang seharusnya ngambil ini Pertamina sama PLN, jadi dua-duanya punya saham lah pak, saya bilang begitu

P: Dikasih kecil kemarin saya bertahan Bu, ya kan, beliau ngotot

W: …Sama PLN…

P: PLN. Waktu itu kan saya ketemu Pak Ari juga bu, saya bilang Pak Ari mohon maaf, masalah share ini kita duduk lagi lah Pak Ari. Ibu setuju bu

W: Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama-sama Pak Sofyan.

P: Betul

Menurut informasi yang beredar, diduga pembicaraan Rini Soemarno dan Sofyan Basir tersebut terkait proyek storage LNG di Bojonegara, Serang, Banten yang akan dibangun oleh PT Bumi Sarana Migas (BSM).

Terminal Penerimaan LNG Bojonegara dijadwalkan selesai dibangun 2020. Pertamina dan PT Bumi Sarana Migas akan membentuk Joint Venture (JV) untuk proyek Terminal Penerimaan LNG ini.

Dirut PLN Sofyan Basir (foto: ist)

Di terminal ini rencananya akan ada juga fasilitas regasifikasi dan pembangkit listrik. Kapasitasnya 500 MMSCFD atau setara dengan 4 juta ton LNG.

Proyek storage LNG di Banten ini dibangun untuk mengantisipasi ancaman defisit gas di Jawa bagian Barat dan adanya kesiapan lahan yang dimiliki oleh salah satu anak perusahaan Kalla Group sejak tahun 1990an.

Rencana pembangunan proyek ini sejalan dengan keinginan pemerintah, agar perusahaan swasta mau berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur.

Juru bicara PT Bumi Sarana Migas, Nanda Sinaga, pada 16 November 2016 pernah menerangkan bahea proyek Terminal Regasifikasi LNG ini merupakan gagasan dari Kalla Group yang kemudian ditawarkan kerja sama kepada PT Pertamina (Persero) pada 2013. Proyek infrastruktur Terminal Regasifikasi LNG ini akan dibangun dengan tingkat keandalan yang tinggi serta kompetitif dibanding dengan Terminal yang ada di Indonesia dan di regional.

Proyek Terminal Regasifikasi LNG Darat dengan investasi sekitar Rp 10 Triliun ini sepenuhnya akan dibiayai oleh pemenuhan modal pemegang saham serta pinjaman dari Lembaga Keuangan Jepang, yang terdiri dari Lembaga Keuangan Pemerintah Jepang dan Perbankan Jepang.

KLARIFIKASI KEMENTERIAN BUMN

Klarifikasi pun berdatangan. Pertama dari Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro. Dia menjelaskan bahwa percakapan yang dilakukan Menteri BUMN dan Dirut PLN terkait investasi proyek penyediaan energi yang melibatkan PLN dan Pertamina

Diskusi Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir memiliki satu tujuan, yaitu memastikan bahwa investasi tersebut memberikan manfaat maksimal bagi PLN dan negara, bukan sebaliknya untuk membebani PLN.

Dalam percakapan utuh dan bukan sepotong atau sepenggal, isi yang sebenarnya terjadi adalah pembahasan upaya Dirut PLN Sofyan Basir dalam memastikan bahwa sebagai syarat untuk PLN ikut serta dalam proyek tersebut adalah PLN harus mendapatkan porsi saham yang signifikan. Sehingga PLN memiliki kontrol dalam menilai kelayakannya, baik kelayakan terhadap PLN sebagai calon pengguna utama, maupun sebagai pemilik proyek itu sendiri.

Dalam perbincangan yang dilakukan pada tahun lalu itu pun Menteri Rini secara tegas mengungkapkan bahwa hal yang utama ialah BUMN dapat berperan maksimal dalam setiap proyek yang dikerjakan. Sehingga BUMN dapat mandiri dalam mengerjakan proyek dengan penguasaan teknologi dan keahlian yang mumpuni.

Proyek penyediaan energi ini pada akhirnya tidak terealisasi karena memang belum diyakini dapat memberikan keuntungan optimal, baik untuk Pertamina maupun PLN.

“Kami tegaskan kembali bahwa pembicaraan utuh tersebut isinya sejalan dengan tugas Menteri BUMN untuk memastikan bahwa seluruh BUMN dijalankan dengan dasar Good Corporate Governance (GCG),” kata Imam dalam keterangan tertulis, Sabtu 29 April 2018.

DIRUT PLN SIAP KE RANAH HUKUM

Direktur Utama (Dirut) PLN Sofyan Basir juga menjawab dan menerangkan isi sebenarnya dari percakapannya yang sepenggal tersebut dengan Menteri BUMN Rini Soemarmo.

Menurutnya, percakapan tersebut dilakukan pada akhir 2016. Dia pun mengaku sadar jika percakapan itu direkam.

“Pertama kali komunikasi kalau tidak salah akhir 2016. Saya tahu itu direkam tapi enggak tahu kok dipotong-potong gitu lo. (Pelakunya) enggak tahu,” ujar dia.

Menurutnya, percakapan itu membahas investasi PLN dan Pertamina dengan perusahaan swasta di bidang penyediaan energi. Sofyan menilai potongan rekaman itu seakan-akan yang meminta saham adalah dia pribadi.

“Jadi saya ngomong ‘kami’ ni kaku, biasanya ‘saya’. Saya ini PLN, saya bertemu Bu Rini ya PLN, bukan Sofyan Basir. Saya ini PLN,” ujarnya.

Sofyan juga menegaskan proyek tersebut hingga saat ini belum terbentuk karena masih belum ada kesepakatan. Dia mengaku meminta saham 30 persen untuk PLN dan Pertamina, tetapi hanya mendapatkan 7,5 persen.

“Proyek itu enggak jadi jalan karena kita belum sepakat. Kami kan mintanya saham lebih besar. Gitu kan permintaan saya dalam komunikasi itu. Kami mintanya 30 persen,” kata Dirut PLN.

Dengan adanya pemenggalan pembicaraan sehingga menimbulkan persepsi yang negatif, Sofyan pun berencana membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

“Kayaknya gitu, kami akan masuk ke ranah hukum. Kalau itu lempeng-lempeng aja (tidak dipotong) bagus,” kata Sofyan di sela-sela rakor BUMN di de Tjolomadoe, Karanganyar.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here