Perkuat Konservasi Perairan, USAID-SEA Gelar Pelatihan Perikanan di Fakfak, Papua

1
292
Pelatihan Perikanan (foto: Conservation International Indonesia)

ORANYENEWS-  Potensi alam khususnya kekayaan laut di Fakfak yang begitu besar perlu dilestarikan. Dibutuhkan pengelolaan yang ramah lingkungan agar kesejahteraan rakyat ke depannya selalu terjaga. Salah satunya adalah dengan pelatihan pengelolaan kawasan konservasi yang digelar pada 6-8 Februari 2018 di Gedung Diklat Kabupaten Fakfak sebagai bagian dari program USAID-SEA yang bekerjasama dengan Dinas Kelautan & Perikanan Papua Barat, Dinas Perikanan dan Kelautan Fakfak dan Conservation International (CI) Indonesia.

Pelatihan ini dihadiri oleh 35 peserta dari kampung pesisir Distrik Kokas, Arguni dan Mbahamdandara, serta penyuluh Perikanan Fakfak.

Sebanyak 14 orang dari Dinas Perikanan Kelautan Fakfak juga turut menghadiri pembukaan pelatihan oleh Bapak Charles Kambu, Asisten 2 Kabupaten Fakfak.

Beliau menilai acara pelatihan ini sangat penting karena mempertemukan para nelayan yang kaya pengalaman dengan ilmu perikanan berkelanjutan. “Tuhan memberikan kekayaan sumberdaya di perairan Fakfak yang tidak dimiliki daerah lain, semua itu perlu disyukuri dengan cara dijaga bersama”, tuturnya.

Sejak November hingga Desember 2017, kurang lebih 490 orang di Kabupaten Fakfak telah mendapatkan sosialisasi pengelolaan kawasan konservasi perairan; 236 di antaranya merupakan masyarakat adat dan pemerintah kampung dari tiga distrik (Karas, Kokas, dan Arguni), 101 staff pemerintah daerah dan LSM, serta 50 orang perwakilan komunitas kaum muda dan 103 siswa Sekolah Dasar (SD). Angka ini memperkuat 1.400 peserta pelatihan lainnya mengenai kawasan konservasi perairan di Papua Barat yang dilaksanakan sejak tahun 2009.

Kabupaten Fakfak yang terletak di Provinsi Papua Barat ini memang sedang berusaha meningkatkan kapasitas para pengelola kawasan konservasi perairan. Hal ini menjadi penting karena Teluk Berau dan Teluk Nusalasi Van Den Bosch telah masuk ke dalam Kawasan Perairan Konservasi Perairan Daerah.

Kawasan tersebut pun menjadi fokus untuk meningkatkan sumber daya yang ada di dalamnya.

Perairan Teluk Berau sendiri meliputi kawasan Kep Ugar di Distrik Kokas, Kepulauan Arguni di distrik Arguni, serta perairan Teluk Nusalasi hingga Tanjung Van Den Bosch, Distrik Karas. Semua wilayah tersebut menjadi fokus pengelolaan sumberdaya ramah lingkungan melalui program Konservasi sesuai dengan Keputusan Gubernur Papua Barat No 523/136/7/2017 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Daerah.

Nur Ismu Hidayat, Fakfak Program Manager CI Indonesia, mengatakan bahwa, perwujudan pengelolaan di kawasan konservasi memang tidaklah mudah. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan stakeholder terkait dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang ramah bagi lingkungan.

“Masa lalu kampung Fior, Furir, Darembang dan Goras dulu saya kecil, Bapak dorang pancing itu di muka kampung saja dapat ikan hasil tangkap yang banyak dan berbagai jenis. Datang tahun 2004 saya sudah mencari ikan dengan jangkauan yang jauh dan hasil tangkapnya tidak seperti dulu. Ini mungkin disebabkan oleh penangkapan yang berlebihan menggunakan alat tangkap modern seperti pukat harimau, bom, potasium sehingga merusak ekosistem perairan di sekitar kampung kami”, papar Ahmad Muri, Kepala Kampung Furir.

Selain tantangan di atas, tantangan lain yang tidak kalah penting yakni menyoal pengawasan di sekitar kawasan karena tidak ada sistem khusus yang melibatkan masyarakat dengan pihak yang berwenang untuk mengontrol penegakan aturan di daerah zonasi di dalam KKPD. Hal ini membuat penegakan aturan perikanan kurang berjalan efektif.

Mewakili masyarakat Fakfak, Maulud Ahek, Kepala Kampung Baru, mengatakan bahwa masyarakat Fakfak mendambakan lingkungan yang sehat demi generasi mendatang. “Kami berharap kolaborasi antara Polair, Angkatan Laut dan Dinas Perikanan sejalan dengan kearifan masyarakat misalnya kerakera bisa dijalankan, serta pendampingan dari pemerintah untuk memberdayakan nelayan lokal dalam kegiatan budidaya perikanan sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini,” ungkapnya.

Plt. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Fakfak, Untung Tamsil memaparkan bahwa salah satu strategi pembangunan perikanan dan kelautan kampung di Kabupaten Fakfak adalah penguatan kapasitas lembaga dan integritas pembangunan perikanan berkelanjutan. Lebih lanjut disampaikan  “Pelatihan ini mendukung Pemda Fakfak mewujudkan pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan. Kedepannya Dinas Perikanan kelautan akan membangun

sinergitas antar bidang terkait seperti Koperasi Usaha Kecil Menengah, Pemberdayaan Masyarakat Kampung, perindag, Pendidikan dan kesehatan, Pemerintahan Kampung, masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat”.

Tentang Proyek USAID SEA

Proyek Sustainable Ecosystems Adcanced (SEA) yang didanai oleh USAID adalah proyek lima tahun (2016 – 221) yang mendukung pemerintah Indonesia, dalam menguatkan Tata Kelola Sumberdaya Perikanan dan Kelautan serta Konservasi Keanekaragaman Hayati. Proyek yang diimplementasikan oleh Tetra Tech dan konsorsium mitra ini bekerja pada tingkat nasional, provinsi, serta lokal di Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715 Indonesia.

Dengan menggunakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem dan melibatkan pemangku kepentingan utama, proyek USAID SEA bertujuan untuk (1) menguatkan pengelolaan perikanan dan kawasan perlindungan laut guna meningkatkan produktivitas perikanan, konservasi, dan pemanfaatan berkelanjutan; dan (2) memperkuat kapasitas kepemimpinan dari pemerintah lokal dan Kementrian Kelautan Perikanan (KKP).

Tentang Conservation International (CI). Berlandaskan pada ilmu pengetahuan, kemitraan dan pengalaman

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here