Diusir dari Sekolah, Anak Idiot Itu Menjadi Penemu Terhebat Dunia

Siapa sangka, Anak idiot atau bodoh yang dikeluarkan sekolah saat berusia 4 tahun itu menjadi penemu terhebat dunia.

Suatu hari seorang anak berusia 4 tahun pulang ke rumah dari sekolah membawa secarik kertas untuk diserahkan kepada ibunya.

Setibanya di rumah, bocah kecil itu langsung menyerahlan secarik surat itu, “Tommy, anak ibu, sangat bodoh. Kami minta ibu untuk dikeluarkannya dari sekolah.”

Bak disambar petir, ibu Tommy pun kaget membaca surat tersebut. Bukannya marah untuk menyanyikan anak, tapi dia membulatkan tekad, “Anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia,” batin sang ibu.

Akhirnya, Tommy secara resmi hanya bersekolah selama tiga bulan saja. Selanjutnya, bernyanyi ibulah yang mendidik Tommy kecil, macam macam hal, membaca, menulis, dan matematika. Dia juga sering memberi dan membacakan buku-buku untuk Tommy, antara lain buku-buku yang berasal dari penulis seperti Edward Gibbon, William Shakespeare dan Charles Dickens.

Saat berusia 12 tahun, Tommy mendapatkan penghasilan dengan cara bekerja menjual koran dan surat kabar, buah apel, dan gula-gula di sebuah kereta api. Di usia itu pula, Tommy hampir mengalami kehilangan pendengaran karena penyakit yang dideritanya, penyakit itu menjadi setengah tuli.

Dia pernah menulis dalam diarinya, “Saya tidak pernah mendengar burung bernyanyi sejak saya berusia 12 tahun.”

Pada usia 15 tahun, Tommy, sambil tetap berjualan, dia membeli sebuah mesin cetak kecil bekas yang selanjutnya dipasang pada sebuah bagasi mobil. Kemudian dia mencetak korannya sendiri, WEEKLY HERALD, yang dicari, diedit dan dijualnya di tempat dia berjualan.

Kemudian di musim panas 1862, dia menyelamatkan seorang anak berusia tiga tahun yang hampir ditabrak mobil. Ayah dari anak yang diselamatkan adalah kepala stasiun kereta api di tempat berjualan. Dan sebagai rasa terima kasih, kepala stasiun tersebut mengajari Tommy cara menggunakan telegraf. Setelah 5 bulan menggunakan telegrap, dia kemudian bekerja sebagai ahli telegraf selama 4 tahun. Hampir semua gaji yang didapatnya dihabiskan dengan membangun berbagai macam laboratorium dan peralatan listrik.

Tommy sangat senang belajar sesuatu dan membaca buku-buku yang ada Dari semua yang dipelajarinya, dia menerapkannya dengan cara bereksperimen di laboratorium kecilnya. Tommy tinggal di laboratoriumnya, hanya tidur 4 jam sehari, dan makan dari makanan yang dibawa ke laboratorium. Tommy melakukan percobaan dan eksperimen terus menerus hingga penemuan-penemuannya menjadi sempurna.

Sebelum bisa bisa lampu kilat, ia melakukan 5.000 percobaan yang selalu berakhir dengan kegagalan.

Keras kali ini, namun cara berpikir yang dimilikinya positif dan tahan banting, ini terasa pada kreativitas tingkat tinggi.

Dia menjadi orang yang pantang menyerah, bahkan jika dia bertanya berapa kali dia gagal sebelum menghasilkan keberhasilannya dalam menghidupakan lampu, mungkin dia akan menjawab, “Saya tidak pernah belajar belajar tentang benda yang bisa digunakan untuk lampu dan benda yang tidak dapat digunakan untuk membuat Lampu “.

Ya, memang semangat seorang Tommy atau dikenal luas sebagai Thomas Alva Edison, sampai akhirnya dia sukses menjadi penemu lampu pijar, yang akhirnya membuat dunia terang benderang.

Thomas Alva Edison lahir 11 Februari 1847 dan meninggal 18 Oktober 1931 pada umur 84 tahun. Dia adalah penemu dan pengusaha yang mengembangkan banyak peralatan penting. Dia adalah ilmuan yang sangat berjasa dalam kehidupan manusia. Dia juga seorang ilmuan pertama yang menerapkan produksi secara massal pada penemuannya.

Selama karirnya, Thomas Alfa Edison telah mempatenkan sekitar 1.093 hasil penemuannya, termasuk bola lampu listrik dan gramofon, juga kamera film. Ketiga penemuannya itu industri industri untuk industri, rekaman dan film yang akhirnya menelurkan kehidupan masyarakat di seluruh dunia.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here