Kronologi Eksekusi DN Aidit Sebelum Ditembak Mati, Sempat Minta Rokok

0
2722
Komunis
Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) (foto : Istimewah)

Pimpinan Partai Komunis, Dipa Nusantara Aidit atau biasa disebut juga DN Aidit ditangkap tanggal 22 November 1965 lalu di Kampung Sambeng, Solo, Jawa Tengah sebagai tempat persembunyiannya. Setelah pelarian yang panjang akhirnya pihak TNI menemukan jejak yang mengarah ke rumah Kasim alias Harjomartono. Saat penangkapan pun, Aidit masih terlihat santai bahkan sambil menikmati rokok dan kopi tanpa ada rasa ketakutan sama sekali.

Bahkan dari beberapa sumber mengatakan bahwa Aidit sempat meminta rokok kepada salah satu tentara yang menangkapnya.

Tentu saja tentara yang menangkapnya membiarkan Aidit membawa rokok sambil mengatakan untuk bersiap nantinya merokok bersama dengan Gatot Subroto yang sudah meninggal tahun 1962 silam.

Setelah penangkapan yang dramatis ini, Aidit dibawa ke Loji Gandrung untuk dipindah tangankan kepada salah satu tentara berpangkat mayor namun ditolak oleh Mayjen Yasir Hadibroto karena alasan tertentu.

Jenderal Soeharto memberikan perintah kepada Yasir yang kemudian mengutus salah satu anak buahnya, Mayor MT untuk menemukan sumur tua yang sudah tidak memiliki air. Tempat ini yang akan menjadi persemayaman terakhir dari Aidit oleh regu tembak nanti.

Sesaat sebelum Aidit dieksekusi sempat mengajak tentara untuk berbincang bahkan sempat bertanya “Tahukah kamu artinya seorang Menko? Wakil Ketua MPR Sementara Kemari? Apakah ini sumur dan untuk apa?”. Yasir menanggapinya “Ya saya mengerti pak, Apakah bapak mau tahu sumur ini untuk apa? Bukannya bapak tahu kalau Pak Yani dulu dimasukkan ke dalam sumur seperti ini?”

Aidit memang sudah sadar jika sebentar lagi ajalnya sudah dekat, namun Aidit malah melanjutkannya dengan meminta waktu untuk berpidato. “Jangan tergesa-gesa, saya ingin pidato”. Pada akhir pidatonya dia berteriak “Hidup PKI” yang menjadi teriakan terakhir dari Aidit sebelum peluru bersarang di tubuhnya.

Setelah meninggal Aidit dibuang ke dalam sumur tua tak berair, sama persis seperti kejadian Lubang Buaya sebelumnya. Para tentara membuang beberapa tumpukan batang pisang, kayu yang sudah kering, tanah, lalu membakarnya untuk menghilangkan Jejak Aidit.

Pada saat eksekusi jumlah tentara yang terlihat hanya empat orang saja ditambah dua kopral pengemudi Jeep. Saat eksekusi berlangsung pun juga masyarakat tidak mengetahui jika Aidit yang ternyata ditembak mati, bahkan termasuk tentara Brigade.

Partai Komunis yang menggerakkan Gerakan 30 September tahun 1965 lalu membantai banyak tentara termasuk para pahlawan revolusi. Dengan memanfaatkan pengetahuan masyarakat yang masih kurang dan membuat pemikiran bahwa setiap tanah merupakan hak para petani sehingga mampu memunculkan bentrokan-bentrokan susulan.

Dari pemicu itu dimulai gerakan yang lebih besar untuk membantai sejumlah tentara, tidak terkecuali di daerah-daerah yang masih kurang penjagaan.

Eksekusi dilakukan secara keji dengan menyiksa bahkan walau dalam keadaan yang sadar pun terus terusan dihantam oleh berbagai alat penyiksa.

Jasad para pahlawan tersebut ditumpuk dan dimasukkan ke dalam sumur tua yang kini dikenal sebagai Lubang Buaya. Dari kejadian ini memang membuat militer Indonesia menjadi turun tangan dan membasmi gerakan PKI dengan cepat.

Beberapa masyarakat yang terlibat dalam gerakan ini pun juga ikut dibasmi. Beberapa masyarakat dilaporkan hilang tanpa adanya jejak yang sebelumnya membela PKI dan membatu organisasi tersebut untuk berjalan.

Sampai sekarang ini pun gerakan tersebut masih menjadi ancaman negara mengingat beberapa golongan yang masih ada yang berencana untuk membuatnya kembali. Itulah mengapa akhir-akhir ini masih sering dibahas untuk wajib nonton film pengkhianatan G30S/PKI untuk mengingatkan bahwa dulunya ada gerakan yang sangat keji untuk memecah belah sistem negara yang sudah dibuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here