Paket Gizi Lanjut Jangkau Distrik Siret dan Suator, Asmat

0
55
Suku Asmat (foto: ACT)

ORANYENEWS– Hanya ada perahu bermesin motor dan kapal sampan kayu tradisional (kole-kole) yang menjadi satu-satunya alat transportasi di Kabupaten Asmat. Untuk menembus satu kampung ke kampung lainnya, tak ada motor apalagi mobil.

Sebab, jalan yang ada hanya hutan-hutan dengan jalur sungai yang membelah dan menghubungkan tiap kampung. Perjalanan memang sulit, tapi ikhtiar Aksi Cepat Tanggap untuk merespons Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Asmat harus tetap berjalan.

Setelah Sabtu sore 20 Januari kemarin tiba di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, tim Emergency Response ACT langsung menyiapkan bantuan paket gizi. Bantuan bahan makanan padat gizi disiapkan untuk menyuplai kebutuhan dapur umum yang sudah disiagakan sebelumnya oleh Pemerintah Daerah Distrik Agats.

Tak berhenti sampai di situ, Senin (22/1) aksi kembali dilanjutkan. Ada perjalanan panjang menggunakan perahu bermesin motor (speedboat) untuk menjangkau beberapa distrik tetangga Agats.

Meski bersebelahan dengan Agats, distrik lain yang terdampak KLB campak dan gizi buruk tetap sangat sulit dijangkau. Jalur transportasi keluar-masuk hutan dan menyusuri sungai-sungai menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjangkau kampung-kampung di distrik lain sekitar Agats.

Sejak pagi, perjalanan sudah dimulai. Nurjannatunaim, salah satu anggota Tim Emergency Response ACT di Asmat mengatakan, seharian penuh timnya menempuh dua kabupaten yang letaknya lebih pelosok dari Distrik Agats.

“Kami memulai perjalanan sejak pagi sekali. Rute kami pertama sampai ke Distrik Siret, lalu ke Distrik Suator paling jauh dari Agats. Perjalanan menggunakan speedboat paling cepat 2 sampai 3 jam,” tutur Nur di Agats, Senin (22/1) pagi.

Ikan yang ditukar dengan mi instan di Distrik Siret

Dari Agats, perjalanan menyusuri sungai butuh dua jam lebih sampai tiba di deretan rumah-rumah panggung di Distrik Siret. Kami, Tim Emergency Response ACT bertemu dengan Kepala Desa setempat. Kami mendapat kabar, anak-anak di Distrik Siret termasuk paling banyak terdampak KLB campak dan gizi buruk.

Ketua Tim (KATIM) Posko Kesehatan KLB Campak & Gizi Buruk Kabupaten Asmat, Septian Herpriyono, mengatakan, beberapa hari sebelum kedatangan Tim ACT, Pemda bersama TNI dari Agats sudah membawa sejumlah anak gizi buruk untuk ditangani di RSUD Agats.

“Akan tetapi, kemudian kami mendengar kabar lanjutan salah satu anak menderita campak dirawat di Puskesmas Yaosakor. Kami menilik ke puskesmas. Anak ini badannya tampak panas, satu keluarga menunggu si anak sepanjang hari. Tak lupa kami memberikan bantuan paket gizi untuk anak ini, semoga membantu pemulihan badannya,” ujar Nur.

Dari Yaosakor, mesin motor speedboat kembali meraung. Tim Emergency Response ACT kembali bergerak menuju ke Kampung Waganu, masih di Distrik Siret. Di Kampung Waganu, masalah gizi buruk pun merebak luar biasa beberapa pekan terakhir.

Nur menceritakan, pengetahuan akan makanan bergizi belum tuntas tersampaikan di Kampung Waganu, Distrik Siret. Kebiasaan konsumsi harian masyarakat lokal Waganu sepertinya terpengaruh dengan gaya hidup pendatang yang datang masuk ke kampung ini.

Misalnya saja, Tim ACT menemukan kenyataan bahwa di kampung ini kebiasaan masyarakat lokal malah mengonsumsi makanan instan.

“Bayangkan, di Waganu masih berlaku sistem barter. Ikan segar hasil tangkapan warga malah ditukar dengan mi instan. Kemudian definisi makan sayur menurut mereka adalah mi instan dicampur dengan sedikit sayur direbus dengan kuah. Hal ini juga yang menyebabkan kejadian gizi buruk di Asmat akhirnya merebak,” tutur Nur.

Menyapa warga Kampung Waganu, Nur dan timnya memulai penyuluhan tentang makanan bergizi dan kesehatan dasar. Tak lupa puluhan paket makanan bergizi juga dibagikan untuk anak-anak Waganu.

Usai dari Waganu, hari beranjak sore tapi perjalanan belum selesai. Mesin speedboat empat tak yang ditempel di belakang perahu itu kembali dinyalakan. Perjalanan berlanjut menuju Kampung Jinak di Distrik Suator, sebuah distrik lebih pelosok lagi dari Distrik Siret.

Tiba di Kampung Jinak selepas Asar Waktu Indonesia Bagian Timur, Tim Emergency Response kembali menemukan gambaran yang hampir serupa. Anak-anak berlarian dalam kondisi badannya yang tampak kurus.

“Tulang-tulang tangan dan kakinya kelihatan menonjol, perut bocah-bocah itu buncit. Kampung Jinak di Distrik Suator sepertinya lebih tertinggal dibanding beberapa kampung lain. Kami mendapatkan data, di lebih dari 80% anak-anak di Jinak mengalami kurang gizi, jumlahnya lebih dari 30 jiwa,” tutur Nur.

Sebelum berpamitan di Kampung Jinak, tim Emergency Response ACT membagikan puluhan paket makanan padat gizi. “Paket makanan kami berikan langsung kepada bocah-bocah atau ke mama-mama, sembari kami berikan sedikit penyuluhan lagi tentang konsumsi gizi yang tepat, Alhamdulillah, mama-mama di Jinak itu tersenyum bahagia, mereka berjanji bakal mengubah kebiasaan makan agar kejadian gizi buruk tidak terulang lagi,” pungkas Nur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here