Semangat Untuk Hidup Melawan Stigma Negatif HIV/AIDS

0
52
Ilustrasi HIV/AIDS (foto: Ist)

*ORANYENEWS-Kecenderungan terbentuknya stigma negatif terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) sejak ditemukannya tiga puluh tahun yang lalu merupakan tantangan yang menarik sekaligus memprihatinkan.

Jika jujur diakui, stigma dan diskriminasi telah menjadi hukuman sosial oleh masyarakat terhadap ODHA. Bentuk dari perlakuan tersebut dapat beraneka ragam seperti penolakan, diskriminasi, pengasingan, pengucilan, dan “pelecehan” terhadap para ODHA. Sedangkan, hal tersebut nyatanya semakin memperburuk keadaan, membuat penyakit yang tadinya hanya menyerang sistem imun tubuh berubah menjadi “mimpi terburuk” bagi para ODHA. Kronisnya, hal tersebut membuat penyakit ini makin bebas menularkan penyebarannya secara sengit namun terselubung.

Namun, selama ini masyarakat cenderung lebih banyak membahas tentang sisi negatif dari HIV. Seakan-akan mereka melupakan bahwa seorang ODHA juga bisa mempunyai semangat untuk hidup dan berjuang untuk melawan stigma yang berkembang di masyarakat.

Seperti halnya yang dilakukan Pak Frans dan Pak Benny(nama disamarkan) dari Yayasan Kotex Mandiri. Pak Frans pertama kali mengetahui statusnya sebagai ODHA pada saat ia lulus sekolah, yaitu sekitar umur 19 tahun dan sekarang ia sudah berumur 32 tahun.

“Saat pertama kali dinyatakan berstatus HIV positif pasti down dan shock. Perasaan itu sudah pasti dirasakan, tidak bisa dihindari, dan masa-masa itu adalah masa-masa sulit yang memang harus dilewati,” kata Pak Frans saat ditemui di Yayasan Kotex Mandiri.

Masa terpuruk bagi Pak Frans adalah sepulang dari rumah sakit setelah mengetahui statusnya, Pak Frans menarik dirinya dan mulai menutup diri dan tidak mau bersosialisasi. Hal tersebut berlangsung hampir 2 minggu lamanya. Sampai akhirnya ia bangkit lagi untuk memulai hidupnya yang baru, bertemu pendamping hidupnya, dan mempunyai anak.

Lain halnya dengan Pak Benny yang mengetahui statusnya sebagai ODHA yang sudah berjuang selama 13 tahun sampai saat ini. Walaupun sempat tepuruk dengan status HIV positifnya, Pak Benny tetap berpikir positif karena ia mempunyai teman yang memberikan support padahal temannya sendiri pun berstatus HIV positif sehingga mereka saling menyemangati dan saling support. “Saya menjadikan hal tersebut menjadi contoh bagi saya bahwa ternyata teman saya yang terkena HIV saja tetap bisa sehat, sembuh, dan beraktivitas normal. Kenapa saya tidak bisa,” ujarnya.

Banyak stigma negatif yang berhasil dipatahkan oleh Pak Frans dan Pak Benny yaitu ODHA bisa menikah, memiliki pasangan hidup, dan anaknya tetap HIV negatif. Bahkan, kondisi fisik dari Pak Frans dan Pak Benny sendiri sama sekali tidak terduga rasanya bila mengetahui bahwa mereka adalah ODHA karena terlihat seperti orang normal-normal saja.

Pesan dari Pak Frans dan Pak Benny untuk melawan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA adalah kita sebagai ODHA harus menunjukkan terlebih dahulu ke keluarga, orang lain, dan masyarakat bahwa memang kita dapat sehat kembali, bisa beraktivitas dan bekerja seperti orang normal, dan tidak ada bedanya. Dan untuk sekarang, mindset dan persepsi orang mengenai HIV AIDS seharusnya sudah berubah perlahan-lahan mulai dari penyakit mematikan menjadi penyakit kronis. Sama halnya seperti diabetes, kolestrol, dan darah tinggi. Semua harus dimulai dari diri kita sendiri sebagai seorang ODHA walaupun terkadang informasi masih kurang.Karena asalkan kita patuh minum obat dan tidak takut terhadap penyakit HIV, maka kita akan menang dalam melawannya.

“Walaupun saya berstatus HIV positif, hal tersebut tidak membuat saya menyerah dalam proses memperbaiki diri dan hidup saya. Sehingga, adanya motivasi untuk menyemangati teman-teman lain yang belum mengetahui statusnya karena dulunya saya pernah berada di titik yang sama,” tutup Pak Frans yang sekarang menjadi Koordinator Pendamping Sebaya DKI Jakarta di Yayasan Kotex Mandiri.

*Penulis:

Elysia Devina Fenando (Mahasiswi London School of Public Relations Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here