Jembatan Kehidupan Parung Panjang Siap Diresmikan

0
14
Gambar jembatan sebelum dibangun. (foto: PPPA Daarul Quran)

ORANYENEWS- Sebuah jembatan yang melintasi sungai Cimanceuri, Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, yang tadinya kurang layak pakai, kini sudah dibangun dengan kokoh dan siap diresmikan pada Minggu 14 Januari 2018. Namanya “Jembatan Kehidupan’’.

Ya, “Jembatan Kehidupan” yang bermakna sebagai jembatan untuk membangun dan meningkatkan kehidupan masyarakat yang selama terisolir, jauh dari tangan-tangan pemerintah, sehingga terjadi ketimpangan ekonomi, sosial, dan pendidikan.

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif PPPA Daarul Qur’an Tarmizi As Sidiq, Kamis 11 Januari 2018.

Jembatan Kehidupan setelah dibangun (foto: PPPA Darul Quran)

Peresmian jembatan berdirencanakan akan dihadiri oleh para pegiat Media Sosial, donatur, rekan media dan pimpinan Paytren sebagai mitra donor dalam pembangunan jembatan kehidupan bagi desa Jagabita.

Di Desa Jagabita sendiri, sudah hampir 100 tahun warganya menanti jembatan tua tersebut berubah dengan jembatan yang akan berdiri kokoh. Sebab, jembatan Cimanceuri adalah satu-satunya akses utama keluar kampung. Sementara, jembatan yang kini berdiri masih dibangun dengan bambu seadanya dan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki dan kendaraan bermotor. Itu pun harus bergantian, tak heran warga yang lewat bisa saja jatuh tercebur sewaktu-waktu dikarenakan rapuhnya kondisi jembatan.

Setiap tahun mereka harus membangun kembali jembatan dengan patungan seikhlasnya, lantaran sampai saat ini belum ada sama sekali bantuan dari pemerintah. Jika musim hujan tiba, warga kesulitan melewati jembatan. Jalan kampung yang masih tanah merah, membuat jembatan yang dibangun dengan bambu licin untuk dilalui. Akses pendidikan, ekonomi dan aktivitas masyarakat Jagabita pun terhambat selama masim penghujan tiba, sebab air sungai meluap melahap jembatan bambu mereka.

Jembatan Kehidupan siap diresmikan.

Upah yang tak seberapa membuat mereka tak mampu membangun jembatan dengan beton-beton yang kuat,“Ada sekitar 270 KK di sini. Kebanyakan memang lulusan SD saja, hanya jadi petani, buruh ya kerjanya serabutan saja,” ujar Ketua RT 03 Desa Jagabita, Yadi Setiadi.

Warga yang telah menanti selama 100 tahun untuk memiliki jembatan kokoh sudah tak sabar menggunakan jembatan baru. Rasa khawatir bila musim penghujan tiba pun sirna, sebab jembatan mereka kini benar-benar kokoh, bambu-bambu tua telah berganti tiang-tiang beton. Selama proses pembangunan, warga pun terlibat secara langsung. “Kearifan lokal yang dibangun oleh PPPA Daarul Qur’an bertujuan agar warga turut menjaga keberadaan dan kelestarian jembatan baru ini” ujar Tarmiji.

Program “Jembatan Kehidupan” juga tak lepas dari tema besar “Membangun Indonesia dan Dunia dengan Alqur’an”. Usai jembatan dibangun, PPPA Daarul Qur’an akan menata dakwah masyarakat setempat dengan nilai-nilai Qur’an dengan mendirikan Kampung Qur’an atau Rumah Tahfizh. Dakwah menjadi sangat penting dan pokok agar masyarakat dan anak-anak tumbuh menjadi religius dan berakhlak mulia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here