MetroTV & Ustadzah Salahkan Papan Peraga, Ustadz Solsof Ingat “Tiang Listrik” Setnov

0
116
Ustadz Soleh Sofyan

ORANYENEWS- Ustadzah Nani Handayani dan MetroTV telah menyampaikan permintaan maaf melalui video dan surat terbuka. Akan tetapi, keduanya sama-sama menyalahkan alat peraga dan papan tulis menjadi penyebab kesalahan tulis dua ayat suci Al Quran di dua episode berbeda tersebut.

Salah seorang pendakwah yang seringkali tampil di televisi, Ustadz Soleh Sofyan (Solsof) mengaku kaget dengan viralnya sebuah video perihal ustadzah atau pendakwah yang salah tulis ayat suci Al Quran di televisi.

“Hari ini saya sangat terkaget-kaget dengan sebuah tayangan Televisi Nasional yang kemudian di unggah di Youtube dan secepat kilat menyebar di dunia medsos se-jagad raya, bagaimana tidak kaget, di dalam tayangan tersebut Sang Ustadzah begitu santai dan lantang membahas tentang sholat, sejurus kemudian menuju papan peraga yg bertuliskan ayat Al Qur’an surat Al Ankabut ayat 45. Menjadi masalah besar ketika terlihat jelas ayat tersebut salah dalam penulisannya, setidaknya ada 5 kesalahan, berarti semua penggalan ayat tersebut salah dalam penulisan,” tulisnya.

Akan tetapi dia mengaku tidak ingin menghakimi sang Ustadzah. Tapi ada yang justru membuatnya kecewa dalam permintaan maaf dan klarifikasi keduanya.

“Saya sedang tidak ingin menghakimi Sang Ustadzah, sudah cukup heboh ini menjadi pejaran berharga bagi beliau, Tapi mendadak saya sedikit kecewa dengan klarifikasi Sang Ustadzah dan pihak Metro TV, keduanya kompak menyalahkan alat peraga, mereka beralibi bawah alat peraga menampilkan ayat yang tidak semestinya, artinya dalam hal ini papan tulislah yang akhirnya jadi terdakwa. Saya jadi inget kasus tiang listrik,” urai dia.

“Saya pikir pokok masalahnya bukan pada siapa yang bersalah dan bermasalah, tapi kalau semua pihak baik media televisi dan narsum dalam hal ini para Dai menganggap program religi itu sangat penting dan vital, saya pikir masing-masing pasti akan sangat berhati-hati dalam proses pembuatan & penyajian.
Program agama ‘Dakwah’ tidak hanya bertanggung jawab pada faktor sharing & rating saja, tapi lebih dari itu tanggung jawabnya langsung kepada Allah SWT. Ada jutaan manusia akan mengambil sari dari dakwah yang di tonton di televisi untuk bekal ibadah mereka. Dahsyat pahalanya jika isinya benar dan dahsyat dosanya kalau isinya salah!!,” katanya.

Sekali lagi saya tidak habis pikir, kalau lidah terpeleset sudah sering terjadi, tapi ini terpeleset di alat peraga, ustadzahnya pun melototin itu ayat, bahkan membacanyapun agak babaliyeut (kesulitan) . Bukahkah dalam setiap produksi sebuah program melalui tahapan yang panjang?, Ada Perumusan Ide – Riset – Pra Produksi – Produksi / Proses Syuting – Pasca Produksi yang meliputi : preview hasil syuting, menyusun naskah, Editing, Dubbing, Mixing dan seterusnya. Jadi saya pikir kalau sudah panjang prosesnya begini sulit dimengerti kalau ayat yang pendek dan sangat familiar ini lolos dari pantauan sang Narsum atau produser kecuali karena memang mereka tidak tahu kalau ayat itu salah atau cuek bebek”.

Dia pun berharap masalah ini menjadi pembelajaran penting bagi pemegang program dakwah di televisi dan para pendakwahnya, dengan enam catatan penting:

1. Pemegang program Religi di Televisi seyogyanya mereka yang menguasai Ilmu Agama, angkat santri-santri untuk berhidmat di program Religi Televisi sebagai Controller naskah.
2. Bagi Narsum para dai sampaikan yang kita kuasai, jangan paksakan apa yang tidak kita kuasai hanya karena tuntutan naskah sambil terus belajar
3. Jangan modal nekat hanya untuk terkenal & mengejar tuntutan rating/sharing kemudian melakukan sesuatu di luar fitrah seorang Dai.
4. Berani meminta take ulang kepada crew sekiranya ada yang salah dalam penyampaian sebagai bentuk tanggung jawab kepada Agama dan Umat.
5. Menjadi Dai adalah keniscayaan untuk di kenal umat, silahkan berkenalan dengan umat lewat media yang tersedia. Tampil di TV bukan tujuan tapi sebagai sarana mencapai tujuan.
6. Siap mengakui kesalahan sambil perbaiki diri jangan sampai papan tulis bernasib sama dengan tiang listrik, dia menjadi kambing hitam atas kesalahan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here