Emil Dardak Direbut, PDIP Tak Terpancing Strategi Outsourcing

0
42
Emil Dardak berpose bersama Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto,

ORANYENEWS- PDI Perjuangan mengaku tidak akan terpancing dengan strategi outsourching partai politik lain, dengan meminang Emil Dardak, kader PDIP, untuk mendampingi Khofifah Indar Parawansa. Pasalnya, PDIP sudah mendeklarasikan Gus Ipul-Abdullah Azwar Anas untuk Pilkada Jawa Timur.

PDI Perjuangan akan tetap konsisten dan tidak memilih jalan pintas atau outsourching seperti dilakukan partai lain. PDI Perjuangan lebih memilih dan berkomitmen membangun kader dengan membangun sekolah partai, sekolah kader, dan melakukan pendidikan politik secara berjenjang sebagai proses kaderisasi sistemik yang dibangun PDI Perjuangan.

Emil Dardak dan Arumi Bachsin
Emil Dardak dan Arumi Bachsin

“Kami percaya pada mekanisme kaderisasi Partai,” aku Hasto, Kamis  23 November 2017.

Dalam catatan PDIP, lanjut Hasto, dari 34 kepala daerah asal PDI Perjuangan yang berusia di bawah 40 tahun, hanya Emil Dardaklah yang tergiur kekuasan lebih tinggi. Sebab itu Emil rela loncat pagar dan meninggalkan masyarakat Trenggalek. Padahal Emil baru menjalani kepemimpinan di Trenggalek selama dua tahun.

“Hanya 1 orang yang memilih jalan kekuasaan dan memilih loncat pagar,” kata Hasto.

Walau begitu, Hasto menegaskan berpindahnya Emil Dardak untuk jabatan lebih tinggi, tidak akan mengurangi semangat politik terbuka PDI Perjuangan dalam menghadirkan kader calon pemimpin baru.

”Bung Emil Dardak telah memilih jalan. Partai tentu otomatis memberikan sanksi pemecatan. Ia adalah gambaran sedikit dari orang muda yang memilih loncatan politik, meski baru menjabat 2 tahun menjabat Bupati,” ujar Hasto.

Dia membandingkan dengan sejumlah kepala daerah yang juga kader PDI Perjuangan yang tetap loyal mengabdi kepada masyarakat, tidak mudah tergiur kekuasaan. Contohnya Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Walikota Badung I Nyoman Giri Prasta. Menurut Hasto, mereka adalah contoh pemimpin muda yang lebih memilih bekerja berprestasi melayani rakyat dan menyelesaikan masa jabatannya minimal 5 tahun.

“Mereka adalah kepada daerah yang menempatkan kepercayaan penuh pada rakyat terhadap masa depan kepemimpinannya,” katanya.

Sebagai salah seorang pengajar sekolah para calon kepala daerah PDI Perjuangan, Hasto menegaskan tekadnya untuk terus mendorong organisasi Partai sebagai wahana pengemblengan calon pemimpin.

Hal ini juga kata Hasto justru menjadi tenaga penggerak bagi PDI Perjuangan untuk terus menghasilkan calon-calon pemimpin bangsa yang berkomitmen melayani rakyat bukan sekedar tergiur iming-iming loncat jabatan.

PDI P berjanji akan menampilkan strategi terbaik dalam mengusung Gus Ipul dan Abdullah Azwar Anas. Menurut Hasto, keduanya tidak hanya memiliki akar yang kuat, namun memiliki rekam jejak kepemimpinan yang merupakan kombinasi antara tradisi NU, yang dibalut dengan kedekatan gagasan dengan Gus Dur dan Ibu Megawati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here