Ini Penyebab Anak Korban Kekerasan Ibu di Kedoya Sering Ngompol

0
30
Novi Wanti, ibu muda pembunuh anak G (5)
Share
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ORANYENEWS- Banyak ibu muda yang kurang paham tumbuh kembang anak dengan baik. Sehingga saat anak mengalami fase perubahan dan kesabaran orangtua menipis, seringkali kekerasan baik verbal atau fisik yang dijadikan jalan keluar.

Salah satunya adalah yang dilakukan Novi (30) yang tidak memahami perubahan anaknya, G (5) dari sudah tidak mengompol, belakangan malah mengompol, ditambah aktivitasnya yang juga ikut meningkat. Sang ibu, yang mungkin kelelahan atau sedang memiliki masalah menjadi tidak sabar menghadapi perubahan anak, sehingga melakukan kekerasan.

Novi saat memeluk anaknya yang tewas. (foto: Ist)

Wakil Ketua KPAI bidang pengasuhan Rita Pranawati menghimbau agar orang tua perlu memahami setiap fase tumbuh kembang anak dengan baik. Pada kasus anak G yang sebulan terakhir dianggap sering “ngompol” seharusnya dipahami sebagai alarm bahwa anak ini dalam masalah perkembangan atau kesehatan. Fase toilet training normalnya akan selesai pada anak usia 3 tahunan.

“Dalam kasus anak G, anak diduga sudah merasakan tekanan psikologis yang luar biasa dan kehilangan kepercayaan kepada orang terdekat dalam hal ini ibu. Kecemasan pada anak G ini keluar dalam bentuk “ngompol”. Jika orang tua menyadari anak dalam masalah, seharusnya orang tua mengevaluasi pola asuhnya,” urainya.

BACA KUMPULAN BERITA PEMBUNUHAN ANAK KANDUNG DI KEDOYA

Belajar dari kasus ini, KPAI menghimbau kepada semua pihak yang melihat adanya dugaan kasus kekerasan terhadap anak dapat melaporkan kepada pihak kepolisian melalui BabinKamtibmas yaitu perwakilan polisi di masing-masing kelurahan dan atau kepolisian terdekat dengan memberi tahu RT setempat. Kekerasan di dalam rumah terlihat seperti urusan privasi seseorang, namun prinsipnya masyarakat dapat memberikan laporan kepolisian yang saat ini memiliki Unit Perempuan dan Anak.

Pihak sekolah ananda G sebenarnya sudah menanyakan luka-luka yang ada ditubuh ananda G namun Ibu lebih banyak menghindar. “KPAI berharap sekolah sebagai rumah kedua anak dan masyarakat sebagai fungsi kontrol perlindungan anak dapat melaporkan kepada pihak berwajib jika ada dugaan tindak kekerasan,” katanya.

Melihat kondisi psikologis pelaku, KPAI yang sudah menemui Novi di tahanan Polres Metro Jakarta Barat, mendorong kepada pemerintah untuk terus mensosialisasikan lembaga-lembaga yang dapat membantu mencari jalan keluar dari persoalan anggota masyarakat khususnya persoalan anak, perempuan dan keluarga misalnya P2TP2A, di RPTRA, LK3, dll.

BACA JUGA: KISAH PILU DI BALIK PEMBUNUHAN ANAK DI KEDOYA

“Masyarakat perlu mengetahui kemana masyarakat dapat berkonsultasi dan atau meminta bantuan terkait persoalan pribadinya. Selain itu, masyarakat dapat pula mengajak anggota masyarakat yang dianggap rentan ke tempat-tempat yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut,” katanya.

Pada kasus ini, ibu N adalah single parent dan sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk terus survive namun tidak tahu harus kemana.

Terakhir, pelaku menyatakan sangat menyesal dengan perbuatannya. Ia menyampaikan pesan kepada semua orang tua untuk tidak melakukan kekerasan terhadap anak dan melampiaskan kekesalan kepada anak. Penyesalan hanya akan hadir di belakang, tambahnya.


Share
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here