4 Pelanggaran Pengelola Pabrik Petasan Duri Kosambi, 3 Ditetapkan Tersangka

0
50
Hanif Dhakiri saat kunjungi korban pabrik petasan.
Hanif Dhakiri saat kunjungi korban pabrik petasan.
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

TANGERANG- PT Panca Buana Cahaya Sukses, pemilik pabrik petasan di Duri Kosambi ditengarai melakukan empat pelanggaran terkait dengan ketenagakerjaan. Dalam peristiwa tersebut 48 orang meninggal dunia, sisanya mengalami luka bakar.

  1. Melanggar Izin usaha

PT Panca Buana Cahaya Sukses menurut Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar memang memiliki izin secara lengkap. Mulai dari izin industri, izin lingkungan, hingga izin mendirikan bangunan.

Zaki menceritakan bahwa walnya pabrik tersebut beroperasi dengan izin gudang. Akan tetapi pada tahun 2015, izin ditingkatkan oleh pemiliknya sebagai manufaktur. Kemudian tahun 2016 diterbitkan izinnya, dan tahun 2017 diperpanjang pada dua bulan lalu.

Akan tetapi, menurutnya, meski mengantongi izin, ada pelanggaran yang dilanggar sehingga membuat izin pabrik ini dicabut Pemkab Tangerang.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmograsi saat kunjungi pabrik lokasi kebakaran.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmograsi saat kunjungi pabrik lokasi kebakaran.

Dalam izin usdaha yang ditandatangani direksi, bahwa pekerjanya hanya 10 orang saja. Jika menurut proposal yang diajukan, dengan luasan pabrik, mempekerjakan 10-15 orang masih mungkin. Akan tetapi faktanya bahwa pekerjanya mencapai lebih dari 100 orang, sehingga itu merupakan pelanggaran, sehingga izin dipastikan dicabut.

  1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Pelanggaran lainnya, adalah soal keselamatan kerja. Hasil penyelidikan polisi bahwa kebakaran yang terjadi pada Kamis 26 Oktober pagi itu berawal dari percikan api dari pengerjaan pengelasan asbes yang kemudian menyambar bahan baku kembang api dan petasan banting yang mudah terbakar.

Kemudian, minimnya akses keluar masuk juga dituding menjadi penyebab utama banyaknya korban meninggal dunia, akibat sulit menyelamatkan diri. Hanif Dhakiri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, mengatakan dari segi konstruksi bangunan, pabrik itu mirip seperti gudang.Dalam penilaiannya, sarana, prasarana, dan selamatan kerja tidak memadai.

“Terkait K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) ada beberapa SOP untuk penimbunan, penggunaan, kemudian produksi bahan berbahaya ini SOP lebih tinggi, soal panas saja ada diatur sarana prasarana yang baik untuk mengendalikan panas,” urai Hanif saat kunjungi pabrik, Minggu 29 Oktober.

Pabrik dengan jenis usaha bahan-bahan berbahaya, disayangkan tidak ada jalur evakuasi. Padahal, titik dan jalur evakuasi adalah hal yang amat penting bagi industry yang rentan dan bahaya ini.

“Ada Peraturan Kapolri soal pengendalian bahan berbahaya, ada juga di undang-undang yang mengatur K3,” kata Hanif

  1. Mempekerjakan Anak di bawah umur

Korban-korban selamat mengungkapkan banyak anak-anak berusia 13-17 tahun yang bekerja di pabrik petasan di Duri Kosambi tersebut. Mereka direkrut oleh mandor dengan upah kerja harian Rp40 ribu. Padahal UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan melarang anak atau mereka yang berusia di bawah 18 tahun untuk bekerja pada pekerjaan yang bahayakan kesehatan dan keselamatan anak.

Hanif Dhakiri pun memastikan bahwa harus ada sanksi terhadap pengelola dan pemiliknya.

  1. Pekerja Tak Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan

Pelanggaran lain selain berbohong soal jumlah pekerja, pemilik juga melakukan pelanggaran tentang jaminan sosial ketenagakerjaan. Dari 103 pekerja, hanya 27 orang yang terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Pasalnya, dengan tidak memiliki BPJS Ketengakerjaan, pekerja rentan dieksploitasi dan dilanggar hak-haknya. Mereka yang terdaftar, akan menerima santunan sesuai aturan mengenai hak peserta BPJS. Sedangkan, mereka yang sebagian besar tidak terdaftar, pemerintah pusat dan daerah akan tetap menerima santunan.

Hanif pun bersikap tegas kementeriannya akan menuntut agar pengusaha membayarkan santunan sesuai aturan BPJS Ketenagakerjaan.

“Sanksinya kita akan lihat konstruksi hukum, tapi kalau menurut saya ini harus dikasih sanksi seberat-beratnya. Ini korban besar,” ujar Hanif.

POLISI TETAPKAN TIGA TERSANGKA

Setelah menjalani penyidikan dan penyelidikan, polisi menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus kebakaran pabrik petasan di Duri Kosambi.

Tersangka pertama adalah Indra Liyono, sang pemilik PT Panca Buana Cahaya Sukses. Dia dijerat Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan orang meninggal dan Pasal 74 juncto Pasal 183 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Tersangka kedua adalah Andri Hartanto, direktur operasional pabrik. Dia dikenakan Pasal 359 KUHP tentang Kelalaian yang Menyebakan Kematian dan Pasal 188 KUHP tentang Kelalaian yang menyebabkan kebakaran dengan ancaman hukuman diatas lima tahun penjara.

Tersangka ketiga adalah Subarna Ega, dia adalah pekerja las yang pagi itu mendapat tugas dari Andri Hartanto mengelas asbes yang rusak. Dia mendapat ancaman pasal dan hukuman yang sama dengan Andri Hartanto. Akan tetapi, hingga saat ini Ega masih dalam pencarian, diduga dia meninggal dunia di dalam kebakaran tersebut.

Diketahui, pabrik tersebut menyimpan bahan petasan dengan kuantitas 4000 kilogram.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here