Profil Dwi Hartanto, Kebohongan ‘The Next Habibie’ yang Terbongkar

0
424
Dwi Hartanto klaim diundang BJ Habibie, padahal dia minta KBRI bertemu Habibie.

JAKARTA- “Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga”. Pepatah ini tepat untuk menggambarkan seorang Dwi Hartanto, seorang ilmuwan muda Indonesia yang sempat menjadi sorotan karena klaim memiliki segudang prestasi. Bahkan, dia sempat dijuluki sebagai “The Next Habibie”. Tapi, ternyata semua itu adalah kebohongan belaka.

Dalam beberapa wawancara, Dwi Hartanto mengaku sebagai kandidat professor di Technische Universitet (TU) Delft, Belanda. Dia juga mengaku tengah diminta untuk mengembangkan pesawat jet tempur generasi keenam yang super canggih.

Tak hanya itu, dia juga klaim pernah memenangkan lomba riset Space craft and Technology di Jerman. Dalam lomba tersebut, dia klaim berhasil mengalahkan banyak ilmuwan dari negara lain.

Foto editan Dwi Hartanto, menang di lomba antariksa Jerman.

Bahkan, Agustus lalu dengan segudang prestasi yang diklaimnya, KBRI memberikan penghargaan kedirgantaraan kepada kandidat doctoral di Technische Universiteit Delft ini di HUT RI ke-72. Tapi, kejanggalan demi kejanggalan ini membuat rekan-rekan Dwi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) mencari tahu kebenaran klaim Dwi Hartanto selama ini.

Akhirnya, terkuaklah kebenarannya. Bahwa ternyata semua yang disampaikan Dwi Hartanto hanyalah kebohongan belaka. Akhirnya, Dwi Hartanto pun mengakuinya dan membuat surat klarifikasi mengenai kebohongan yang dilakukannya di lama PPI Delft.

Dwi memulai pernyataannya dengan permohonan maaf dan pengakuan bahwa dirinya memberikan informasi yang tidak benar, tidak akurat, dan berlebihan, utamanya perihal prestasi soal keilmuan soal roket dan bidang kedirgantaraan.

Dwi Hartanto saat merakit proyek kampusnya.

“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya,” tulis Dwi.

Dwi pun memberikan beberapa klarifikasi, bermula dari latar belakangnya. Bahwa dia bukanlah lulusan Institut Teknologi Tokyo, Jepang. Akan tetapi, dia hanyalah lulus S1 dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Kemudian, soal pendidikannya yang lain dia membenarkan bahwa dia menempuh S2 dan S2 di TU Delft. Dia juga mengklarifikasi soal posisinya sebagai Post-Doctoral atau asisten professor, itu tidaklah benar. Saat ini dirinya hanyalah seorang kandidat Doktoral di TU Delft.

Selanjutnya, dia juga mengklarifikasi bahwa dirinya bukanlah kandidat doctor di bidang Space Technology and Rocket Science, tapi yang benar adalah bidang Interractive Intelligence (Departemen Intelegent System).

Dwi Hartanto juga mengklarifikasi perihal informasi-informasi yang lainnya, berikut klarifikasinya:

Roket dan Jet Tempur, Itu Bohong!

Dalam wawancara dengan sejumlah website Tanah Air, Dwi mengaku membuat roket TARAV7S, proyek Kementerian Pertahanan dan Belanda dan Pusat Kedirgantaraan dan Antariksa Belanda. Saat ini dia mengaku bahwa roket TARAV7S itu tidak benar dan tidak pernah ada.

Dwi Haryanto mengaku hanya membuat Roket DARE Cansat 7S, sebuah merupakan proyek amatir roket mahasiswa di Delft. Bukanlah proyek Dutch Space atau Airbus Defence. Institusi tersebut hanyalah sponsor dalam hal bimbingan dan bantuan dana saja.

Informasi berlebihan lainnya adalah soal pesawat jet tempur generasi keenam. Itu juga sebuah karangan Dwi saja.

“Informasi saya sedang mengembangkan pesawat tempur generasi keenam itu tidak benar. Informasi saya dan tim diminta untuk mengembangkan pesawat tempur Euro Typhon di Airbus Space and Defence menjadi Euro Typhon NG juga tidak benar,” akunya.

“Teknology Lethal Weapon in the Sky dan klaim beberapa paten teknologi adalah tidak benar dan tidak pernah ada,” lanjutnya.

Kemenangan Lomba Antariksa di Jerman, Itu Foto Editan!

Dalam kesempatan itu, dia juga mengklarifikasi bahwa dia tak pernah menang lomba soal antariksa yang bergengsi di Jerman. Foto Dwi Hartanto memegang plakat dengan hadiah lomba 15.000 euro ternyata hanyalah editan belaka.

“Saya mengakui bahwa ini adalah kebohongan semata. Foto tersebut saya posting di media sosial dengan cerita soal kemenangan saya,” akunya.

Kemudian, kebohongan lainnya adalah pertemuannya dengan mantan Presiden BJ Habibie. Dia menulis bahwa BJ Habibie yang mengajaknya bertemu, padahal yang sebenarnya dia meminta KBRI untuk mempertemukannya dengan BJ Habibie. Dia juga berbohong perihal wawancara dengan televise Belanda dan soal tawaran pindah warga negara karena prestasinya itu.

Kini, KBRI di Belanda yang dipimpin Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja mencabut penghargaan untuk Dwi Hartanto dan dinyatakan tidak berlaku. “Keputusan Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda Nomor SK/023/KEPPRI/VIII/2017 tentang Penghargaan kepada Dr. Ir. Dwi Hartanto dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” di laman resmi KBRI.

Kemudian, Dwi juga saat ini tengah menunggu keputusan resmi kampusnya akibat kebohongan-kebohongan yang telah dia sebar di masyarakat secara luas.

Profile Dwi Hartanto

Dwi Hartanto adalah pria kelahiran 13 Maret 1982. Usianya 35 tahun, bukan 28 tahun sebagaimana dia klaim dalam wawancara.

Dwi Hartanto adalah lulusan S1 Teknik Industri di Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (Akprind) Yogyakarta tanggal 15 November 2005. Bukan lulusan Institut Teknologi Tokyo.

Dwi Hartanto menyelesaikan S2 di Fakultas Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science di Technische Universitet (TU) Delft tahun 2009.

Kemudian, Dwi Hartanto meneruskan S3 di bidang Intelligent System Technische Universitet (TU) Delft. Saat ini statusnya adalah kandidat Doktoral, bukan calon profesor.

Atas gelar PhD yang sering disebutkannya, kini Dwi tengah menghadapi serangkaian sidang di kampusnya.

Dia juga mengaku mendapat beasiswa S2 dari pemerintah Belanda di Technische Universitet (TU) Delft. Namun lagi-lagi itu bohong.

“Tidak benar kuliah S2 saya dibiayai pemerintah Belanda. Kuliah S2 saya di TY Delft dibiayai oleh beasiswa yang dikeluarkan Depkominfo, Republik Indonesia,” kata Dwi Hartanto.

Dwi juga mengakui bukan ahli kedirgantaraan dan roket seperti digembor-gemborkan selama ini.

Seperti kata-kata bijak, “Sebuah kebohongan akan terus ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnya”. Berhentilah berbohong, dan katakan yang sebenarnya, walaupun itu mungkin terasa pahit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here