Anak Spesial untuk Orangtua yang Spesial

0
68

“Anak saya bisa sekolah di sini, bu?” tanya seorang ibu sambil memangku seorang gadis mungil nan cantik. “Anak saya DS (down syndrome) Bu, Saya tidak menuntut apapun dari sekolah, saya hanya ingin anak saya bisa belajar, bersosialisasi dengan teman sebayanya. Kebetulan dari semua sekolah usia dini yang saya survey, sekolah ibu yang bisa membuat anak saya tersenyum.

Ibu jangan khawatir, anak saya rutin menjalani terapi, dari mulai terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi, dan lainnya. Saya juga akan terus mendukung sepenuhnya peraturan & kebijakan sekolah”.

Masya Allah, mata saya basah ibu ini. Ibu spesial dari seorang anak spesial. Tak ada rasa malu sedikitpun, tak ada keinginan untuk menyembunyikan fakta-fakta tentang anaknya. Semua dijelaskan dengan detail, gamblang, dan dengan senyum.

Saya mengenal istilah anak berkebutuhan khusus 4 tahun silam, saat saya masih menjadi pendidik di salah satu sekolah Islam terpadu. Istilah anak berkebutuhan khusus (child with special need) itu sendiri mengandung sejarah yang panjang. Anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, anak luar biasa, hingga istilah yang berkembang, yaitu difabel. Difabel merupakan kependekan dari diference ability. Sejalan dengan diakuinya hak asasi manusia, maka digunakan istilah anak berkebutuhan khusus (ABK).

Sehingga istilah ini tidak hanya mengandung makna anak dengan cacat fisik, mental, maupun akademis, lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan potensinya.


Namun, masih banyak orang yang mempersepsikan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki kekurangan atau keterbatasan, padahal pengertian dari anak berkebutuhan khusus tidak sesempit itu. Anak berbakat atau gifted juga termasuk ke dalam kategori anak berkebutuhan khusus.

Mayoritas persepsi masyarakat masih sempit mengenai anak berkebutuhan khusus. Masih banyak orangtua yang merasa putus asa dan menyalahkan diri mereka karena melahirkan anak yang tidak sama dengan anak-anak lain. Para orangtua ini kemudian tenggelam dalam kesedihan yang semakin menghancurkan.

Masih banyak masyarakat yang apatis terhadap keberlangsungan hidup sosial ABK. Anak-anak sering “tidak diterima” di lingkungannya karena perilakunya dianggap aneh hingga dikucilkan dari pergaulan. Masih banyak juga sekolah umum menolak anak-anak berkebutuhan khusus. Selain diyakini akan menghambat proses pembelajaran, para guru juga banyak yang tidak siap secara mental menerima murid spesial seperti itu.

Pertanyaan mendasar, sebenarnya tanggung jawab ABK itu siapa?
Pada hakikatnya pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang sebagai pusat pendidikan untuk anak yang paling penting dan menentukan.

Tak hanya itu saja, seorang anak memperoleh pendidikan, pengarahan, pembinaan , serta pembelajaran untuk yang pertama kalinya dari orangtua mereka. Semua itu adalah faktor penting yang nantinya sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak tanpa terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus.

Pendidik, psikolog, terapis, dokter, dan tenaga pendamping khusus berperan hanya membantu orang mengenai perkembangan anak. Walaupun begitu, semua elemen mulai dari orang tua hingga masyarakat harus bisa bersinergi baik dalam menangani ABK. Sehingga ada kesamaan persepsi dan visi yang sama tentang arah pendidikan ABK ke depannya.

Sedari awal, orangtua harus menyadari dan memahami tentang kekurangan anaknya. Diharapkan orangtua tidak minder, tetapi justru menjadikan tantangan untuk bisa melejitkan potensi yang dimiliki anak. Harus sadar akan hak anak-anak berkebutuhan khusus untuk pendidikan dan hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak “normal”.

Namun, karena adanya keterbatasan yang dimiliki oleh para orangtua, maka orangtua membutuhkan bantuan dari orang lain yang mampu dan mau membantu memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka yaitu pihak sekolah terutama guru.

Jadi, anak berkebutuhan khusus bisa hidup mandiri karena hasil kombinasi dari peran orangtua di rumah dan juga guru di sekolah yang memberikan berbagai ilmu pengetahuan serta keterampilan.

Orangtua dan guru di sekolah menjadi dua agen penting dalam  kesuksesan pendidikan anak special. Apa saja yang disampaikan oleh guru di sekolah harus ditindaklanjuti oleh para orangtua di rumah. Disinilah kita bisa melihat peran penting orangtua untuk menjadikan anak berkebutuhan khusus menjadi seorang anak yang mandiri.

Pada saat potensi bakat anak berkebutuhan khusus muncul, umumnya orangtualah yang pertama kali menemukan potensi anak tersebut. Setelah itu, barulah guru meneruskannya melalui program pembelajaran anak dan nantinya anak akan bisa menggali bakatnya lebih dalam lagi. Misalnya saja anak berkebutuhan khusus memiliki potensi bakat dalam bidang musik karena ia suka mengetok-ngetok meja dengan irama yang bagus.

Mungkin bagi sebagian besar orang yang tidak biasa menghadapi anak berkebutuhan khusus, hal itu merupakan sesuatu yang biasa saja. Namun, lain halnya jika orang itu sering berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini adalah orangtua si anak, pastinya mereka akan merasakan bahwa apa yang dilakukan oleh sang anak mungkin adalah potensi bakat dalam bidang musik. Dari situ orangtua dapat melakukan sharing dengan guru di sekolah agar bisa memberikan pendidikan khusus kepada anak demi menggali bakatnya lebih dalam lagi.

Dari situ kita bisa menarik kesimpulan bahwa pada dasarnya orangtua haruslah lebih berperan aktif dalam mengembangkan pendidikan dan pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Mengapa demikian? Karena orangtua adalah orang terdekat bagi anak-anaknya sehingga mereka bisa lebih memahami anaknya sendiri menggunakan ikatan batin atau perasan yang mereka miliki.

Tidak sedikit dari kita mendapati orangtua yang malu untuk mengakui anaknya yang berkebutuhan khusus. Padahal, seharusnya anak berkebutuhan khusus itu harus mendapatkan dukungan penuh dari orangtua mereka dan juga orang-orang terdekat yang ada di sekitarnya.

Jika orangtua malu mengakui anaknya, lalu bagaimana mungkin seorang anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan yang baik serta bisa tumbuh dan berkembang dengan baik pula.

Untuk menghindari permasalahan yang tidak diinginkan serta dampak yang kurang baik bagi anak berkebutuhan khusus, maka perlulah kesadaran bagi para orangtua untuk memperhatikan segala kebutuhan anak berkebutuhan khusus tanpa terkecuali dalam pendidikan.

Selain itu komunikasi yang baik antara orangtua dan guru juga sangat dibutuhkan dalam mendukung pendidikan anak, sehingga ketika ada hal-hal yang tidak mampu diselesaikan sendiri dalam menangani anak berkebutuhan khusus, orangtua dan guru bisa saling sharing untuk mendapatkan hasil yang baik bagi semua pihak. Dari situ akan tercipta kerjasama yang baik antara orangtua dan guru agar nantinya tidak akan ada kasus saling menyalahkan.

Ingatlah selalu bahwa mengembangkan pendidikan anak berkebutuhan khusus tidak akan mencapai hasil yang maksimal jika hanya dilakukan oleh pihak sekolah atau guru saja tanpa ada campur tangan dari orangtua. Orangtualah yang memegang peranan penting bagi anak berkebutuhan khusus untuk memberikan layanan pendidikan pada anak.

Butuh orangtua special untuk anak-anak special.

Selain menerima akan kondisi anak dan tidak melakukan penyangkalan atasnya, orangtua juga perlu bersinergi dan terus berkomunikasi dengan sekolah agar perkembangan anak special ini bisa terus terpantau dan mampu dikembangkan sesuai dengan potensinya.

Allah Subhanahu Wata’ala tidak pernah menciptakan produk gagal.
Jadi tak perlu minder memiliki anak DS, autis, ADD, tuna netra, tuna rungu dsb. Jangan pernah menganggap bahwa anak yang lahir catat adalah kutukan untuk orangtua yang melakukan dosa besar.

Dalam Islam tidak ada dosa warisan. Jadi cacat sejak lahir bukan karena dosa turunan orang tua, namun sudah pemberian dari Allah semata. Special needs children bukanlah produk gagal yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala, mereka hanyalah manusia yang diuji Allah dengan keterbatasan.

Orangtua harus bisa merubah mindsetnya, bahwa semua ciptaan Allah memiliki tujuan dan arti tentang kehadirannya di dunia ini. Para orangtua lah yang harus memahami perannya sebagai tempat bersandar dan bergantung anak-anak special ini. Jika orangtuanya mengabaikan maka mereka telah lalai terhadap amanah.
Salam takdzim untuk anak yang spesial khusus yang membuat anak anda spesial dalam arti sebenarnya.

#dedicated untuk bunda Kei, ibu khusus.
Nurul Badriyah
Penulis adalah pemilik dan pendidik PAUD Kebon Alam, Depok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here