Dan Hoax pun Digunakan di Persaingan Tukang Bakso

0
161
Ilustrasi bakso

BEKASI­Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Pepatah lama ini tampaknya tepat untuk menggambarkan suasana hoax yang seringkali terjadi di negeri ini. Jika awalnya dilakukan di dunia politik, menyerang lawan demi menjatuhkan lawan, guna meraih kekuasaan. Tapi kini tindakan itu ditiru rakyat untuk persaingan yang paling bawah, yaitu persaingan tukang bakso.

Cerita bermula dari sebuah warung tukang Bakso bernama Kumis Permai VI yang terletak di dekat Perumahan Prima Baru Blok M, Mangun Jaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, mendadak sepi pelanggan.

Taufik M Widodo mengakui sebelumnya, warung bakso miliknya itu memang tutup dalam waktu yang cukup lama, yaitu 25 hari, 25 Agustus-19 September. Itu disebabkan pengelola bakso miliknya sedang menikah di kampung halamannya. Nah, saat warung dibuka omzet menurun drastis, di bawah 50 persen dari biasanya. Awalnya, mereka mengira ini hal biasa karena terlalu lama warungnya tutup.

Bakso siap tersaji

Akhirnya, barulah diketahui penyebabnya, setelah pengelola warung bakso dipanggil Ketua RW . “Setelah buka lebih dari sepekan, kemarin pengelola dipanggil Pak RW. Dan langsung ditanya kenapa buka lagi, setelah meresahkan warga,” ungkapnya, Kamis 28 September 2017.

Anak buah Taufik pun bingung dengan pernyataan Pak RW dan berusaha memahami maksudnya. Kemudian Pak RW pun menjelaskan bahwa selama warung itu ditutup, beredar informasi di warga melalui sosial media facebook dan grup whatsapp, bahwa warung tersebut ditutup setelah digerebek polisi karena menggunakan daging celeng alias babi.

Ternyata, kondisi warung tutup tersebut dimanfaatkan orang yang tidak senang dengan usahanya, diduga sesama pesaing tukang bakso untuk menyebarkan berita bohong melalui medsos hingga viral di wilayah tersebut, sehingga pelanggannya tidak ada yang mau datang lagi ke warungnya.

Mengetahui hal itu, Taufik dan anak buahnya tidak tinggal diam. Dia mendatangi orang-orang yang menyebarluaskan kabar tersebut dan meluruskan bahwa informasi tersebut tidaklah benar. Dari upayanya itu, ada beberapa orang yang menanggapinya. Bahkan, setelah diluruskan, mereka yang tadinya membagikan informasi bohong tersebut meminta maaf, dan membantu menyebarkan informasi yang benar. Bahkan, ada yang minta ampun agar tidak diseret ke pihak yang berwajib. Tapi, ada juga yang tidak menanggapi dan langsung menonaktifkan akun facebooknya.

Taufik pun mengakui bahwa efek berita bohong itu sangat berasa bagi omzet warungnya. Tak hanya di warung tersebut, cabang warung bakso lain miliknya pun ikut berdampak dengan adanya penyebaran berita bohong tersebut. “Kerugian mencapai ratusan juta,” ungkapnya.

Tak hanya mendatangi penyebar berita bohong, Taufik juga memasang spanduk untuk klarifikasi mengenai ketidakbenaran informasi tersebut. Dia juga meminta surat dari RW dan melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian setempat, yaitu Polsek Tambun.

Warung bakso.

Taufik mengaku menyesalkan hal itu, karena dirinya telah mengikuti aturan dengan baik selama berdagang puluhan tahun, demi kepuasan pelanggannya. Bahkan, label halal MUI pun didapatinya dengan usaha yang tidak mudah. Dia harus bolak-balik ke Bandung, agar bahan bakunya dicek LPPOM MUI.

Babinkamtibmas Aiptu Larso juga memastikan belum pernah ada penggerebekan polisi ke warung bakso tersebut. Pasalnya, dia pasti tahu jika ada operasi di wilayahnya tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here