Cerita Penculik Jenderal AH Nasution Salah Alamat

0
904
Jenderal AH Nasution diapit Prabowo dan Kivlan Zen.

JAKARTA – Dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, ternyata ada sebuah peristiwa yang tidak terungkap secara gamblang. Sebuah peristiwa, dimana salah satu grup penculik ternyata salah alamat, saat hendak menculik Jenderal AH Nasution.

Diduga, salah alamat itulah menjadi penyebab mengapa Jenderal AH Nasution bisa lolos, melarikan diri saat rombongan tentara dalam Gerakan G30 September mendatangi rumahnya. Padahal, 6 jenderal lainnya berhasil dibawa dalam kondisi meninggal atau masih hidup.

Cerita itu diungkapkan salah satu prajurit Cakrabirawa yang berhasil dibujuk Letkol Untung dan Lettu Doel Arif, bernama Sulemi. Dia pun menceritakan kronologis tersebut.

Jenderal AH Nasution bersama Chaerul Saleh, Leimena, dan Subandrio.

Sulemi memulai cerita dari sebuah apel mendadak di Istana Merdeka Jakarta, pukul 17.00 WIB, Kamis 30 September 1965.  Sulemi kala itu tergabung dalam Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, pasukan di bawah kepemimpinan Letkol Untung Samsuri.

Sore itu, ada perintah turun dari Komandan Batalyon, Letkol Untung Samsuri agar seluruh kompi konsinyir (waspada) berat. Dalam apel tersebut dijelaskan bahwa ada ancaman kudeta terhadap Bung Karno, yang akan dilakukan Dewan Jenderal menjelang HUT TNI pada 5 Oktober mendatang.

Pria kelahiran Purwokerto 6 Januari 1940 itu langsung membayangkan keselamatan Presiden Bung Karno. Tanpa ragu atau bertanya, dia pun mantap untuk menjaga keselamatan Presiden, yang juga tugas utama seorang Cakrabirawa.

“Sekarang logikanya, jika seorang prajurit mendengar itu (soal kudeta terhadap presiden) apalagi dengan doktrin Cakrabirawa, yang harus menjaga keselamatan presiden, beserta keluarganya, langsung mantap. Kalau Bung Karno kenapa-kenapa? (menjaga presiden) itu sudah jiwa dari pasukan Cakrabirawa,” terangnya.

Kemudian, Apel tersebut juga menurunkan perintah untuk menjemput beberapa jenderal yang dituduh bagian Dewan Jenderal. Pasukan yang sudah dikumpulkan ini, diperintahkan Letkol Untung untuk menjemput jenderal tersebut untuk menghadap pimpinan besar revolusi. Kemudian ditentukan jam penjemputannya pukul 03.00 WIB pagi. Kemudian, sekaligus dibagikan tugas regu mana saja yang menjemput masing-masing jenderal.

Dua Jenderal Bintang Lima, Soeharto dan Nasution.

 

Pasukan yang dikumpulkan, kata Sulemi, 10 orang pasukan Cakrabirawa mengisi tiap-tiap masukan. Sisanya, ditambah pasukan dari Brigif I Kodam V Jaya, yang merupakan anak buah Kolonel Latif. Tiap rombongan total memiliki 36 personel.

Selanjutnya, pasukan yang sudah dibentuk ke dalam tujuh regu tersebut berangkat ke Lubang Buaya. Sebagai salah satu yang mengembang tugas menjemput Panglima Angkatan Darat Jenderal Abdul Haris Nasution, Sulemi tidak dapat tidur. “Saya tidak bisa tidur, karena mendapat perintah sampai jam 03.00 WIB pagi,”ujarnya.

Kemudian, pukul 03.00 WIB, regu yang diikutinya menuju sasaran yang hendak dituju. Begitu juga enam grup lainnya, menuju target penjemputan yang berbeda. Timnya hanya membutuhkan setengah jam untuk sampai ke lokasi sasaran. Tapi, dalam perjalanannya, pasukan Sulemi tersebut sempat salah alamat, nyasar ke rumahnya Wakil Perdana Menteri II Leimena. “Penunjuknya Pak Idris, waktu itu salah,” katanya.

Setibanya di rumah Leimena, pasukan pun langsung menyergap sejumlah penjara, sempat terjadi sedikit keributan. Melihat keributan, Aipda Karel Salsuit Tubun sempat mengeluarkan tembakan, tapi karena kalah jumlah akhirnya dia tewas dalam baku tembak.

Kemudian, pasukan tersebut sadar salah alamat karena tidak ada pos militer di rumah tersebut. Barulah mereka beralih ke sebuah rumah yang terletak 100 meter dari lokasi tersebut, yang terdapat pos militernya.

Mereka pun langsung datang menyergap penjaga keamanan rumah Jenderal AH Nasution yang berjumlah 10 orang. Tidak terjadi perlawanan dari penjaga. Pasukan yang dipimpin pembantu letnan Djahurup memiliki strategi, “Ketika sampai di sana, kami bilang kepada penjaga agar diam. Kemudian, ada anggota yang mengambil senjata,” ungkapnya.

Kemudian, para penjaga digiring masuk ke sebuah ruangan dan dikunci dari luar. Awalnya, pasukan penjemput sudah menyampaikan ingin menjemput untuk menghadap Istana. Tapi, pasukan penjaga ngotot dan sempat adu mulut, tapi akhirnya mereka mengalah.

Kemudian, Sulemi bersama dua teman lainnya, Haryono dan Suparjo beranjak masuk melalui pintu utama rumah yang tidak terkunci. Mereka kemudian, bergegas masuk dan mencari Jenderal Nasution.

“Setiba di depan pintu kamarnya, kami mengetuk pintu untuk memohon izin bertemu. Pintu sempat terbuka dan kemudian ditutup lagi dan dikunci. Mungkin tahu, kalau yang datang adalah pasukan Cakrabirawa,” ucapnya.

Saat itu, aku Sulemi, dibutuhkan sebuah keputusan berat untuk mengemban tugas membawa Jenderal Nasution menghadap Bung Karno. Pintu sempat didobrak, tapi tidak bisa terbuka. “Akhirnya, gagang pintu yang terkunci ditembak hingga terbuka. Yang menembak kami bertiga,” katanya.

Akhirnya, pintu pun terbuka. Tapi, mereka dikagetkan dengan sosok perempuan yang membaya seorang anak yang terakhir diketahuinya bahwa itu anak bungsu Jenderal Nasution yang tertembak peluru mereka.

“Kita (saat itu) belum tahu ada siapa saja di dalam kamar itu, mungkin Bu Nasution dengan siapa lagi, siapa lagi. Enggak mengerti,” katanya. “Setelah pintu terbuka, Bu Nasution membopong anaknya. Mungkin anaknya terkena pantulan peluru dan mengenai anak perempuan yang berada di dalam kamar. Jadi cerita kalau menembak anaknya dengan sengaja, itu enggak benar,” urainya.

Mengetahui target tidak didapatkan, pasukan yang dipimpin Djahurup tersebut segera menuju ke Lubang Buaya. Dalam perjalanan dia baru mengetahui kalau ada Kapten Pierre Tendean ikut dibawa bersama pasukan dari arah timur rumah.

“Kalau proses ditangkapnya Tendean secara pasti, saya tidak tahu. Karena yang ‘megang’ Tendean itu Pak Idris tadi. Dia (Idris) keliru lagi, Tendean dikira Nasution,” ucapnya.

Letnan Pierre Tendean yang dikira Nasution.

Perihal lolosnya Nasution, Sulemi memperkirakan Menpangad di era Orde Baru itu melarikan diri melalui jendela kamar dan melompati pagar Kedutaan Besar Irak. Setelah tak didapati Nasution, Sulemi melaporkan hal itu kepada pimpinan regu Djahurup.

“Saat itu, ada yang memberitahu kalau Pak Nasution lewat jendela kamar, terus loncat sampai ke dindingnya, saat itu sempat ditembaki. Selain itu ada yang bilang, lolosnya Pak Nas, mungkin karena sebelumnya ada keributan di rumah Leimena, sehingga sudah tanggap dengan situasi tersebut,” tuturnya.

Jenderal AH Nasution dalam sebuah wawancara dengan media mengaku bahwa dirinya keluar dari belakang rumahnya, kemudian loncat melalui tembok sebelah rumahnya, Kedutaan Besar Irak dengan ketinggian 2,5 meter. Kemudian dia memanjat menara air, dan bersembunyi di baliknya hingga setengah hari.

Di markas Kostrad setelah lolos dari upaya penculikan.

Setelah peristiwa tersebut, beragam pasukan datang ke rumahnya, tapi dia belum mau turun dari tempat persembunyiannya. “Tak jelas mana kawan atau lawan”. Barulah, setelah anak buahnya datang, Nasution melompat turun.

“Karena berjam-jam jongkok, saya terjun ke bawah seperti batu jatuh. Saya ambruk. Lutut saya ini terkilir dan enam bulan saya harus pakai tongkat,” ucap Pak Nas saat itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here