Kisah Letkol Untung Komandan Cakrabirawa Setelah Gerakan 30S/PKI,

0
597
letkol untung ditangkap
Letkol Untung saat ditangkap setelah mencoba melarikan diri

Sejarah mengatakan, Letnan Kolonel Angkatan Darat Untung bin Sjamsuri merupakan penerima Penghargaan Bintang Sakti karena berhasil pada operasi Trikora di Irian. Namun berlanjut kemalangan setelah peristiwa G30S/PKI.

Dalam artikel The World of Sergeant-Major Bungkus: Two Interviews with Benedict Anderson and Arief Djati terbitan Universitas Cornel, Sersan Bungkus mengaku masih ingat peristiwa yang dialaminya pada tanggal 30 September 1965 lalu. “saya diberi pengarahan oleh komandan kompi sore tanggal 30 September 1965.

Komandan kompi C dari Batalyon KK (Kawal Kehormatan) I Cakrabirawa yang juga dikenal oleh bungkus tersebut adalah Lettu (letnan Satu) Dul Arif. Saat apel malam hanya bisa mengumpulkan 60 anggota pasukan yang nantinya akan bergerak menuju kawasan Lubang Buaya.

Kata Dul Arif, “Komandan Untung menugaskan saya (Sersan Mayor Bungkus) untuk memegang unit Resimen Cakrabirawa. Komandan Untung juga mengatakan bahwa ada kelompok Jenderal yang ingin mengkudeta Presiden Soekarno”.

Tugas utama dari Resimen Cakrabirawa itu sendiri memang bertugas untuk melindungi Presiden Soekarno. Tentunya setelah Komandan Untung menugaskan pasukan tersebut banyak yang berpikir bahwa Jenderal besar tersebut merupakan salah satu ancaman musuh besar mereka.

Maka dari itu pada peristiwa G30S 1965, para pasukan yang menculik Jenderal tersebut tidak ragu untuk menembak langsung tahanan yang mereka bawa. Pada malam tanggal tersebut juga, Kolonel Untung yang merupakan komandan Batalyon KK ikut serta dalam mengawal Presiden Soekarno pada acara nasional ahli teknik yang berlokasi di Senayan jam 23.00.

Setelah acara tersebut memang Kolonel Untung langsung berangkat ke Lubang Buaya dekat dengan Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Ketika memasuki jam dini hari yaitu tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa berangkat untuk menculik Jenderal yang dianggap sebagai ancaman tersebut.

7 Pahlawan Revolusi Korban PKI
7 Pahlawan Revolusi Korban G30s/PKI

Totalnya ada sekitar 6 Jenderal Besar Angkatan Darat dan satu orang Letnan yang nantinya berakhir tragis di Sumur Tua tak berair Lubang Buaya. Kolonel Untung memang dianggap sangat buta terhadap politik juga sangat pendiam.

Untung dalam siaran Radio Republik Indonesia, bertugas sebagai Ketua Dewan Revolusi yang memiliki anggota-anggota yang terkemuka yang tidak semuanya komunis.

Selain itu, Untung juga menjadi satu-satunya orang yang menandatangani dokumen Dewan Revolusi. Sebenarnya jejak sejarah Untung yang menjadi komandan utama tersebut bukan hanya tertoreh sebagai pelaku kejahanaman G30S saja namun dia sempat mendapatkan penghargaan Bintang Sakti pada operasi Trikora tahun 1962 di Irian. Memang saat itu Kolonel Untung dikenal dengan nama yang sangat baik bahkan banyak pihak yang mengakuinya.

Namun memang tidak bisa diprediksi arah dari operasi Untung selanjutnya. Dalam buku sejarah, Kolonel Untung ini digambarkan sebagai tentara dengan tubuh yang pendek namun kekar yang memang melambangkan seorang tentara dalam tulisan Dalih Pembunuhan Massal (2008) milik John Roosa.

Untung memang sering ditugaskan dalam hal bertempur karena memang sangat hebat sekali dalam hal menghajar musuhnya. Sebut saja PPRI dan Trikora di Irian, namun dalam segi politik memang tidak terlalu menonjol.

Dalam tulisan Audrey Kahin, Dari Pemberontakan ke Integrasi (2005) mengatakan bahwa orang-orang di Sumatera Barat heran jika mengetahui Untung dipakai sebagai pemimpin Kudeta pada tanggal 30 September tersebut.

Untung kecil memang sudah terlihat akan menjadi seorang tentara nantinya karena pada umur 20 tahun, Untung bertugas membantu tentara Jepang yang dikenal dengan nama Heiho menurut tulisan Julius Pour, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang (2010).

Saat peristiwa di Madiun tahun 1948, Untung masih berpangkat sebagai Sersan Mayor dan pada tahun sekitar 50an, Untung sempat menjadi bawahan dari Suharto sebagai Letnan di Batalyon Sudigdo, Kleco, Solo. Dari tahun ke tahun memang kariernya dalam militer terus menanjak.

Terbukti setelah penugasan dari Sumatera tanggal 1958 yang semula masih berpangkat Letnan Satu menjadi Kapten. Kemudian pada tahun 1962 pangkatnya naik menjadi Mayor dan pada tahun 1965 dia memiliki pangkat Letnan Kolonel.

Menginjak tugas ke Irian Barat (Trikora) Untung sempat memimpin pasukan Benteng Raider Batalyon 454 Srondol Kodam Diponegoro Jawa Tengah. Memang Untung menjadi seorang Komandan Batalyon menggantikan Kolonel Ali Ebram yang dulunya dianggap sebagai pengetik Supersemar.

Beberapa pasukan dari Benteng Raider tersebut ditarik menjadi pasukan Resimen Cakrabirawa dalam Batalyon KK I yang dipimpin langsung olehnya. Benteng Raider sendiri merupakan pasukan elit yang dulunya didirikan oleh Ahmad Yani yang juga menjadi korban penculikan pada tragedi 30S. Dari informasi dikatakan bahwa beberapa pasukan penculik berasal dari Benteng Raider.

Sejak tanggal 1 Oktober 1965 tersebut memang Untung sebagai salah satu idola di militer menjadi surut. Untung sempat menghilang terhitung sejak tanggal 2 Oktober 1965.

Beberapa kemalangan yang terjadi pada Untung ketika menginjak tanggal 11 Oktober 1965 saat menaiki sebuah bus, ketika sampai di Tegal, bus tersebut dimasuki oleh tentara yang tidak dikenalnya.

Untung memang sadar ketika ada beberapa orang yang mencurigakan ikut naik ke dalam bus tersebut. dia berinisiatif untuk melompat keluar dari bus tersebut.

Malang nasibnya ketika melompat namun tubuhnya menghantam tiang listrik pinggir jalan. Beberapa orang yang berada di dekat tersebut mengira Untung seorang pencopet.

Sempat dikeroyok dan menjadi bulan-bulanan massa tersebut. Untung digambarkan tidak takut pada siksaan yang dia terima yang ditulis dalam Kenang-kenangan Orang Bandel (2009) karya Misbach Yusa Biran.

Kesialan Letkol Untung
Sumber : Tirto.id

Dalam sejarah Indonesia, pada awal tahun 1966, Untung diadili oleh Pengadilan Luar Biasa Mahmilub. Dengan ruang sidangnya sendiri di Gedung Perencanaan Pembangunan Nasional dekat dengan Taman Suropati, Menteng, Jakpus, bukannya di Gedung Pengadilan Kementrian Kehakiman.

Berkas-berkas pengadilan yang dibukukan menjadi sebuah karya dengan judul Gerakan 30 September di hadapan Mahmilub: Perkara Untung (1966). Dalam laporan tersebut, pekerjaan dari Untung yang semula adalah Letnan Kolonel Infanteri AD Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa resmi diberhentikan tidak hormat.

Pengadilan Untung sendiri terdapat Gumuljo Wreksoatmmodjo SH yang bertindak sebagai pembela, ketua Mahmilubnya sendiri adalah Letnan Kolonel CHK Soedjono Wirojhatmodjo SH, dan dengan hakim anggotanya sendiri adalah Letnan Kolonel Udara Zaidun Bakti, Ajun Komisaris Besar Drs Kemal Mahisa SH, Mayor AL Hasan Basjari SH, dan Mayor tituler Sugondo Kartanegara.

Dalam persidangan tersebut Untung sempat mengatakan “Kolonel Latief yang menyatakan tentang kesulitan ekonomi prajurit dan keterangan tersebut dibenarkan oleh yang hadir seperti Kapten Wahjudi, Mayor Udara Sujono dan Untung itu sendiri”.

Untung sendiri sempat memiliki keyakinan bahwa dirinya tidak akan dijatuhi hukuman mati dan yakin akan dibebaskan oleh Suharto saat berada di Instalasi Rehabilitasi Cimahi yang ditulis pada buku Kesaksianku tentang G-30-S (2000) karya Subandrio.

Menurut Subandrio sendiri, Untung sempat ditanya tentang permintaan terakhirnya namun seperti orang-orang umum yang akan dijatuhi hukuman mati, dia tidak meminta apa-apa. Memang kebanyakan mereka yang akan dijatuhi hukuman seperti tersebut akan merasa panik dan akhirnya tidak meminta apapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here