Pavel Durov, Pendiri Telegram yang Diusir dari Negerinya Sendiri

0
155
Pavel Durov, pendiri Telegram.
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA- Menteri Komunikasi dan Informatika Rudi Antara memblokir website telegram di Indonesia. Hingga saat ini sudah ada 10 juta orang pengguna aplikasi Telegram. Lalu, siapakah pembuat Telegram? dan bagaimana Telegram bisa berkembang hingga ke Indonesia.

Namanya adalah Pavel Durov, banyak yang menyebutnya sebagai Mark Zuckerberg dari Rusia. Tidak banyak yang tahu bahwa awal popularitas Pavel Durov berasal dari jejaring sosial yang pertama kali didirikannya, dan sangat popular di Rusia, VKontakte.

Pavel Durov, pendiri Telegram.

Dikutip dari Financial Times, Pavel Durov lulus kuliah dari Saint Petersburg State University tahun 2006. Usai lulus, dia memutuskan untuk mengembangkan bisnis teknologi agar dirinya dapat berhubungan dengan teman-temannya. Tapi berbeda dengan Zuckerberg, dia melakukan semuanya sendirian.

“Aku yang menamainya vKontakte yang artinya terhubung. Dan aku membuat semuanya dari nol, kodenya, desainnya, hingga strategi marketingnya,” kata Durov.

Pria 32 tahun itu mengaku bahwa Zuckerberg lebih beruntung, karena belajar di Harvard dan di pekan pertama sudah bisa menarik teman-temannya untuk membuat coding dari Facebook. Sementara, Durov melakukan semuanya sendirian.

Dibantu mengembangkan oleh sang kakak, Nikolai, VKontakte berhasil menjadi jejaring sosial paling tenar di Rusia. Tapi, menjadi bermasalah dengan Kremlin saat dia menolak menutup halaman milik aktivis opisisi Putin yang mengkririk dia kembali mencalonkan diri sebagai Presiden.

Durov pun jadi incaran kepolisian dan harus menjual VKontakte kepada investor yang pro kepada Kremlin. Dia juga dipecat dari CEO dan terpaksa harus terusir dari Rusia dengan kekayayaan saat itu USD300 juta. Usai pergi dari Rusia, dia pergi bersama sang kakak dan mengembangkan Telegram. Dia mengklaim sosial media yang dibuatnya memiliki layanana teraman. Di tengah maraknya penyadapan di sejumlah negara, klaim tersebut menarik perhatian dari masyarakat sejumlah negara termasuk Indonesia. Sehingga telegram menjadi popular di Indonesia.

Tapi, hal itu juga membuat tertarik kalangan pelaku criminal seperti terorisme, narkoba, dan lainnya. Mereka melakukan transaksi dan kegiatan di telegram karena yakin tidak akan disadap. Sebab itulah, pemerintah Indonesia memblokir website sosial media buatan Durov yang kini berkewarganegaraan Saint Kitts dan Nevis.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here